ALL ABOUT ME

today, we are talking about me. yes, sir. M.E. only me alone. today is all about self-centered fool who thinks that the world is evolving around him.

I am a person who consider himself as a subtle person. adore simplicity. despise complexity. rather shut my tramp than create ruckus.

I do realize at some point, I've never really done anything that I really want in my life. I am afraid of changes. I don't like changes. Changes creates insecure feeling inside me.

I am also proud to say that I'm quite a patient person. Calm at heart. But, one thing about me...don't tempt my anger. don't tempt my understanding. don't tempt me for saying things that you would regret in the future for even trying to take the devil out from me.

I've been understanding all of my life. I've been the sponge. I've been the cushion. I've been the pillow, bolster, air-bag. And impact after impact. I'm tired.

I've done mistakes. But who doesn't? Humans made mistakes all the time. If they're not, then perhaps we are gods.
Mistakes does make us human. It's what makes us. It's a dance you perfect over time.

I've learned my lessons. I'm trying all my best for not repeating the same shit all over again.

I want to be selfish sometime. Please tell me how.

I wanna be a person who doesn't care what other people felt towards my action. I'm tired of being understandable all the time.

I wanna get out from my shell.

I wanna get the hell out of this country.

I wanna be alone.

I know, some people rather hurt than feel nothing at all. But, for me, feel nothing at all might be an option for consideration.

For now, I want you to understand me. All of you!
I don't ask a lot. I never did. Just don't bind me.

I am a detail person. I am an obsessive compulsive disorder. But, I'm not meticulously goes into tiny details.

Because I value small things.

I only need a hug. I only need a pat in the back saying that everything is gonna be alright.
I don't need to hear "I understand" while you don't mean it.

Hey perhaps, all i need is a shot of whiskey. C'mon....pour me some. And me like it!

Life Lesson Adventure

Hidup itu cuma sekali.

Nenek-nenek koprol ke liang kubur juga tau statement barusan. Hehehe...

Tapi, berapa banyak dari kita yang bener-bener mikir maksud dari statement barusan?

Berapa banyak dari kita yang bener-bener hidup untuk saat ini dan menikmati setiap detik yang lewat?

Waktu kita kebanyakan habis untuk melakukan apa yang jadi kewajiban kita. Kerja!
Kerjaan yang ga pernah ada abisnya. Kerjaan yang membuat kita tua di jalan. Kerjaan yang bikin energi positif kita abis untuk memperdebatkan hal yang ga signifikan dengan kolega, vendor, dan orang-orang lain.

Kerja emang membuat kita hidup. Kita dapet duit dari pekerjaan kita. That's true.
Kebanyakan dari kita bekerja untuk sesuatu yang sebenernya bukan passion yang kita inginkan. Iya ga? Kebanyakan kerja karena ndak ada opsi lain. Gw iri dengan orang-orang yang bisa kerja untuk passion yang mereka miliki. Bukan berarti gw ga punya passion terhadap apa yang gw kerjain sekarang ya. Cuman...mungkin gw saat ini lagi bener-bener berada di titik jenuh.

Saat ini gw mikir kalo there's more to life than meets the eye. Why I would spend my life working for something that consumes my life wholly?

Setiap kali gw ngeliat NatGeoAdv channel...I know what is my passion. That is to travel. To know peoples. To learn cultures. To spread the knowledge to someone else. Terlepas dari itu semua, poinnya adalah hidup memang indeed terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Too many good things to be missed.

Some of us never dare to walk-out off our comfort zone. That includes me. Hmmm...I think I need to do just that. Don't u think?

Tanda-Tandanya...

DISCLAIMER : Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun maupun komunitas tertentu. Tulisan ini hanya semata-mata observasi serta opini pribadi dan opini dari teman-teman diskusi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika di kemudian hari terdapat pihak yang tersinggung, maka mohon sekiranya dimaafkan.


Horeee...posting pertama di tahun 2011 ini. Selamat tahun baru yaa...semoga selalu handal jaya sentosa ke depannya. :-)

Di tahun baru ini, Mikir-Mikir berharap supaya ke depan semua postingannya bisa lebih segar, membumi dan gak melulu cinta-cintaan. :-)

Maka dari itu, Mikir-Mikir tampil lebih segar dengan template baru dari blogger. :-)

Mau pindah ke wordpress dan punya domain sendiri, koq rasanya belum siap ya. Belum sehandal Mas DimNov dan Mas RyuDek (keduanya blogger favorit saya #jujur!)


Ide posting kali ini muncul dari pengalaman pribadi rekan kerja sekaligus teman saya, Barbie. Pengalaman kehidupan percintaannya seringkali berakhir dengan mengetahui kalo gebetannya itu ternyata ndak suka perempuan. Suatu hari, saya menelurkan ide iseng...


Gimana kalo gue bikin satu posting yang isinya gimana caranya supaya perempuan tau tanda-tandanya laki-laki yang ndak suka perempuan?


Tentunya posting ini, seperti yang sudah disebutkan awal di disclaimer, ndak bisa dipertanggungjawabkan.


Nah...berikut ini beberapa tanda-tandanya.

  1. Peduli ama bentuk tubuhnya. Mungkin karena cowok yang cenderung menilai segala sesuatunya dari penampilan fisik terlebih dahulu, jadi bentuk tubuh yang menarik tentu jadi daya tarik utama mereka. Katanya sih dari mata pindah ke hati. Halahhh.....
  2. Fashion update. Biasanya mereka paling tau mal mana yang bakal ada midnight sale dan brand apa aja yang bakal ikutan sale.
  3. Branded minded. Kebanyakan biasanya cenderung pengen punya barang-barang yang branded. Kalo misalnya ada temennya yang pake barang bagus dan branded, biasanya at the end of the day, mereka juga ikutan beli barang yang sama atau at least mendekati.
  4. T-shirt V-neck. Bukan sekedar t-shirt v-neck biasa. Umumnya V-neck yang mereka pakai itu berbelahan rendah nan ketat. Therefore, we can see men cleavage. Yang badannya six-packed / jadi, pasti yang paling sering pake ini. Terutama emang lagi nge-trend nampaknya walau gak yakin apa tahun ini masih nge-trend juga.
  5. Semua bajunya rata-rata body fit. Punya badan bagus ya masa disembunyikan? Hehehe...sayang, biaya membership gym kan mahal.
  6. Pointy shoes. Tau sepatu kurcaci kan? Yang ujungnya lancip itu. Ini juga salah satu favorit mereka. Terutama yang warnanya putih.
  7. White stuff. Untuk yang satu ini mungkin emang kebetulan lagi nge-trend aja barangkali. Tapi ya emang buanyak yang pake putih di segala penjuru.
  8. Ban pinggang putih. Gak keliatan laki deh kalo pake iket pinggang warna putih. Entah kenapa.
  9. Doyan jadi spotlight di kerumunan massa. Semakin banyak mata yang melirik mereka, biasanya jogetnya makin semangat. BTW, hal ini berlaku kalo di diskotik aja ya. Kalo di tengah hiruk-pikuk mal mereka joget....ya kemungkinan besar emang sakit jiwa.
  10. Foto profil facebooknya lebih dari 20 foto dan semuanya foto sendiri. Kalo banyak yang foto sendiri pake hape, kemungkinan besar 4LaY.
  11. Gak doyan nonton bola. Kalopun nonton bola, either itu lagi final Piala AFF antara Malingsia dan Indonesia, final Piala Dunia atau emang doyan nontonin 12 laki-laki berlarian di lapangan gede sambil keringetan dan tuker kostum di akhir pertandingan.
  12. Merasa hidupnya bak telenovela. Err...ya gitu deh.
  13. Gaya dulu, yang lain nomer dua. Eksistensi dan nama baik seakan dipertaruhkan kalo gayanya gak up-to-date.
  14. Punya postman-bag Bally yang warna talinya merah-putih-merah.
  15. Kalo diajak jalan-jalan ke Bangkok...Chatuchak it’s a must. Kudu belanja. Liburan gak belanja, bagai sayur tanpa garam, kurang enak, kurang sedap.


Lagi-lagi saya informasikan sekali lagi. Semua ini didapat dari hasil observasi semata dan gak bermaksud menyinggung lho. :-)


List ini sebenernya bisa lebih panjang lagi kalo saja saya memang khusus meluangkan waktu secara khusus dan menulisnya bersama dengan teman saya itu. Mungkin akan diupdate lagi nanti.


Tapi, terlepas dari itu semua, saya mengagumi keberadaan pria-pria ini. Karena kebanyakan dari mereka mempunyai kepribadian yang kreatif dan supel. Mereka cukup berdedikasi terhadap apa yang mereka kerjakan dan they actually can deliver a good result in anything that they do.


Terlepas dari kekecewaan yang teman saya alami, saat mengetahui gebetannya ternyata ndak suka ama perempuan, tapi ndak bisa disangkal kalo gays are girl’s best friend (and diamonds). Tau kenapa? Dari asumsi saya, mungkin karena mereka cenderung mempunyai perasaan yang lebih sensitif sehingga resonansi perasaan empati terhadap teman wanitanya lebih berasa dibanding jika seorang wanita curhat ke pria biasa. Therefore kebanyakan wanita merasa aman dan nyaman jika memiliki seorang teman gay di sisinya. Anyway, terlepas dari semua itu, isn’t it this kind of difference that creates the beauty in life?

Pikiran WC di Pagi Buta


*sigh*

Gak bisa tidur gara-gara punggung sakit merana durjana. Fesbuk udah dikelilingin sampe bosen. Twitter udah dibukain setiap trending topic yang ada. Jadi harus ngapain lagi sebelum matahari akhirnya terbit dan menyuruhku untuk berangkat ke kantor?

Blogging? Hmm..udah lama gak blogging.
Lebih karena emang gue lagi ga ada topik buat diobrolin sih.
Hidup gue lagi flat. I mean flat adalah....bener-bener flat. Gak ada hiruk pikuk. Sebenernya gak papa sih emang. Gue justru lebih seneng kayak gini. Gue lagi gak pengen diganggu dengan kejadian-kejadian gak penting. Kerjaan. Omelan. Curhatan. Sampe urusan drama-drama kehidupan yang gak beda ama sinetron-sinetron di tv.

Gw lagi pengen tenang. Gw lagi pengen menjalani hidup dengan yang pasti-pasti aja. Tanpa harus mbaca pikiran orang, tanpa harus memahami orang dengan hati.

*sigh*

Mungkin gue sekarang ini justru malah lebih banyak mengeluh. Mungkin lho ya.
Atau mungkin karena gue sebenernya lagi gak tau apa yang mau gue lakukan dengan hidup gue?


*sigh*

Surat Terbuka Buat Pemda Jakarta

Dear Pengurus Pemerintah Daerah DKI Jakarta,

Gue udah lebih dari XX tahun hidup di kota ini. Kota metropolitan yang notabene merupakan ibukota negara Indonesia. Gue suka banget ama kota ini. Kota ini menyediakan kebutuhan gue dari A - Z deh pokoknya.
Cuman belakangan ini, setahun- dua tahun terakhir...kota ini makin lama, makin gak nyaman untuk ditinggalin. Mulai dari macet yang gak berkesudahan, banjir dimana-mana sampe transportasi umum yang nyaman hanya berjalan seumur jagung.

Sebagai warga yang baik, pengen deh gue ngasih ide untuk persoalan-persoalan yang mengganjal di kota ini. Hanya ide inisial yang mungkin terlihat sok tau juga sih....hey tapi at least I've spoken my mind kan? :-)

Berikut ini adalah beberapa dari masalah yang saya rasa pelik di kota tercinta kita ini plus beberapa ide untuk menyelesaikannya.
WHAT : MACET YANG TAK KUNJUNG PADAM
HOW :
1. Berikan batasan usia kendaraan, baik itu motor maupun mobil, yang boleh beroperasi di jalan-jalan Jakarta. Maksimal 10 tahun. Afterwards....jadi besi tua.

WHAT : BANJIR...BANJIR....BANJIR
HOW :
1. Spare budget daerah dan fokus pada pembersihan kali, relokasi pemukiman di bantaran kali dan pembangunan saluran air bawah tanah secara terpadu. Don't do anything else until this program said and done. Tentuin target selesai....1 tahun!
2. Kerahkan seluruh kontraktor, dengan imbalan tambahan untuk para kontraktor itu bahwa selama 3 tahun mereka bebas dari segala pungutan pajak.

WHAT : TRANSPORTASI UMUM!
HOW :
1. Paksa Organda DKI dan operator otobus untuk memberikan gaji tetep untuk semua karyawan otobus beserta tunjangan-tunjangannya.
2. Beri gaji tetap dan tunjangan operasional untuk Polantas. Ditambah bonus untuk setiap tiket tilang yang mereka peroleh dari para pelanggar ketertiban lalu lintas.
3. SIM diberikan hanya kepada mereka yang benar-benar mengerti peraturan tata krama berlalu lintas.

apa lagi ya? itu dulu deh....hihihihihihii

Senyum Indonesia

Hari ini timeline gue di twitter seru!

Ada beberapa kejadian di Jakarta hari ini :
1. Kerusuhan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (katanya sih karena sidang lanjutan penembakan di Blowfish).
2. Q! Film Festival di-demo oleh mahasiswa UI.

Okay.

Konon selama ini kita selalu jualan ke luar negri :
INDONESIA itu RAMAH.
INDONESIA MURAH SENYUM.

Tapi dengan kejadian hari ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dimana orang main bacok orang, bakar-bakar bus, bikin macet jalan sekeliling lokasi....

wah false advertising nih!

Gue sendiri gak tau duduk perkaranya. Tapi terlepas dari apapun itu, harus seperti itukah resultnya? Bunuh-bunuhan? Bakar-bakaran? After that what? Apa yang di dapet?

Untuk orang yang membacok dan membunuh itu...pernah berpikir gak ya nasib orang-orang yang ditinggalkan oleh orang yang dia bunuh?
Obviously NOT!
Karena jika dia bisa berpikir, maka hal itu gak perlu dan gak akan terjadi.

Let's just say bahwa hasil dari pengadilan itu ternyata tidak sesuai harapan? Ada cara-cara yang bisa ditempuh selain melakukan aksi anarki dan barbar macam itu kan?

Then again, gue rasa kita gak bisa melihat dari satu faktor saja. Karena ada beberapa faktor yang pada akhirnya membuat hal seperti ini (terus) terjadi di Indonesia. Faktor pendidikan, ketegasan pemerintah terhadap hukum dan sebagainya.
Tapi, menurut gue, hal yang paling mendasar adalah (mungkin) akhlak manusia Indonesia sendiri sudah semakin gak bener (jika dirasa menggunakan kata 'bobrok' terlalu ofensif).

--- ---- ------ $$$ $$$ $$$ ----- ---- ---

Untuk Q!FF, konon katanya yang demo adalah anak UI. Which surprises me, a lot. Gue pikir dengan mereka kuliah di universitas ternama, mereka diajarkan untuk menerima perbedaan. Perbedaan di sini yah segala jenis perbedaan lho ya. Lintas suku, agama, ras, antar golongan maupun sexual preferences.

Selama ini gue berpikir bahwa kaum akademisi, cieh..ketinggian ah bahasanya...mahasiswa yang berhasil lulus ujian masuk UI itu pinter-pinter dan open-minded.
Kenapa gue berpikir demikian? Yah iya donk...wong tujuan masuk UI (baca : universitas atau institusi pendidikan manapun) itu kan untuk membuka jendela dunia kan? Supaya jadi pinter dan tau segala hal. Berarti, siapapun itu maka dia siap belajar menerima kenyataan bahwa ada hal-hal di luar lingkungannya selama ini, sebagai suatu situasi maupun kondisi yang berbeda sama sekali. Baik itu dalam urusan nilai-nilai sosial maupun tata krama dan adat istiadat.

Tapi, dengan kejadian demo di Q!FF, gue jadi mempertanyakan keberadaan mahasiswa-mahasiswi yang ikutan demo di situ.
1. Apakah mereka memahami dengan bener apa yang ada di Festival tersebut?

2. Apakah rekan sejawat mereka gak ada yang LGBT juga?

3. Apakah mereka mempunyai kapasitas untuk menilai bahwa keberadaan festival ini akan membuat penontonnya (baca : peserta) bakal berubah convert menjadi kaum LGBT?

4. Emangnya mereka hari ini gak ada kuliah?

5. Lebih penting demo ngurusin hidup orang lain daripada menimba ilmu di kampus?

6. Last but not least, do they have the capacity to judge other people as if they're cleanse from all sins?



Pijet Pijat

Gue suka pijet! Abis stressful day in the office, trus pijet, hmmm pulang ke rumah rasanya enteng.

Kadang gue suka nanya ama diri gue sendiri mengenai pekerjaan mereka sebagai pemijat.

  • Whether are they ashamed of what they do for living?
  • Whether is it their choice for a profession?
  • Can they proudly say out-loud to other people that they are working as masseurs?

For me, terlepas dari mereka adalah pemijat beneran atau pemijat plus-plus, it is still a profession. Regardless apapun juga.

Buat gue, tanpa mereka, gak akan ada yang mau mijit kita untuk ngilangin rasa capek kerja seminggu, atau pegel-pegel karena keseleo atau kecekluk….

Suka gak suka, sadar gak sadar, mereka ini sedikit banyak berjasa lho buat kita. Walaupun mungkin banyak dari kita yang seringkali memandang sebelah mata untuk profesi ini. Kebanyakan dari kita cenderung ngeliat profesi sebagai pemijat itu adalah hal yang negatif.

Considering dari apa yang banyak terjadi, yah gue rasa cukup wajar jika kemudian profesi ini dipandang negatif. Tapi, jangan lupa kadang kita sendiri juga sebagai konsumen yang akhirnya membuat pandangan negatif itu menjadi ada. Contohnya yah ada beberapa bapak-bapak misalnya yang emang suka minta dikasih service extra. Atau ibu-ibu yang keganjenan yang doyan dipijet ama laki-laki muda ganteng dan brotot. Therefore, like any other thing in life, we ourselves takes our part in creating some point of view towards something.

In this case, can we blame them who choose to be a masseur in the first place?

Should we start to give more credit towards this profession? I meant in professional term. :-)

Banning RIM!

Kebutuhan manusia untuk bersosialisasi tiap tahunnya kayaknya makin meningkat seiring pertumbuhan teknologi.

Bagus? Tergantung.

Gw dah pernah ngebahas ini sih. Betapa kangennya gw sama masa2 dimana belum ada BlackBerry.
Semenjak ada BlackBerry...email kudu musti harus segera difollow-up. Klo ndak.....kerjaan numpuk. Considering sekarang kirim email dah kayak ngirim SMS. Thanks to Research In Motion Ltd.

Sebelum ada BlackBerry....kita bisa came up with excuse "gw ga ada koneksi internet. Jadi ga mungkin ngecek email sekarang"

Sebelum ada BlackBerry....saat kita sakit di rumah, istirahat total dimungkinkan.

Setelah ada BlackBerry....saat kita sakit di rumah, ada email gengges masuk inbox....pilihannya ada to reply or not to reply. Tp klo ndak direply koq numpukin kerjaan! Klo direply koq ya effort banget ya..Wong lagi sakit. *sigh*

So...is it BlackBerry improve our life?
The answer would be two-sided sword. In a way....BB membantu, mengimprove cara kita berkomunikasi. In other way...it takes out some part of our personal life.

Memang kita punya choice untuk tidak me-reply suatu email. Tapi apakah kita mau mengambil opsi tersebut setelah memikirkan segala konsekuensi yang akan terjadi dengan pilihan kita untuk tidak me-reply?

*sigh*

Gw ngerasa kadang kemajuan teknologi ternyata emang ndak bisa lepas dari pengaruh kapitalisme. Pengaruh ini ngebuat kita menjadi lebih konsumtif dalam konteks komunikasi. Then again, sekali lagi, itu ga salah juga. Considering komunikasi adalah kebutuhan basic manusia kan....

So...who's to blame aside from ourselves?


Sent from DendolBerry®

Get me a bathrooommm....So I can stop blaberring....

Dengan berkembangnya situs jejaring sosial belakangan ini....privasi kehidupan seseorang bisa dibilang secara tidak langsung ter-invasi.

Semua buah pikiran yang ada di benak kita, dengan mudahnya tersalurkan hanya sejauh ketikan dan sebuah klik di mouse komputer.

Tapi sebenernya sejauh mana sih etika nge-tweet maupun meng-update status di facebook?

Gue paham bahwa etika tertulis itu ndak mungkin ada.

Tapi, above all... internet adalah ranah publik yang sebenernya hampir tidak bisa untuk melarang orang untuk mengutarakan isi hatinya.
Dengan catatan tentunya tidak menuliskan nama. Perkara bahwa orang yang kita sindir atau kita gosipin merasa tersindir, dari pendapat egois gue....that's their problem. Therefore buat gue, they apparently memang merasa tersindir, then they do realize something wrong with them....
Tapi, buat gue mereka lebih tidak etis lagi jika membahas hal tersebut di luar ranah internet.

No matter what other people might say about you....when it comes to the net....it is something that you can not control. Maybe it is wise to take it as your feedbacks. To reinvent yourself. To be a better person.
Therefore if you wanna gain respect, you gain it by conscious and real.

What am I talking about?

I need a bathroom......ouch.....

After All This Time....

Setelah sekian lama, ternyata rasa itu masih ada.

Sebenci apapun untuk gue mengakui perasaan itu, gue gak bisa memungkiri kalo rasa itu memang masih ada.
Gak ngerti kenapa. Gak tau kenapa.
Bodoh? Yup...emang bodoh. Wong udah jelas-jelas dia gak punya feeling ama gue, tapi somehow, someway gue masih terus berharap....bahkan sampai sekarang.

Dia berhasil menyentuh satu bagian di dalam hati gue. Satu bagian yang gue sendiri juga gak tau di sebelah mana.

Tulisan ini sebenernya gak penting dan cenderung menjadi pengulangan. Cuman, kadang inilah yang gue butuhin. Gue butuh untuk nyari pelampiasan atas perasaan yang gak tertuang ini. Gue gak mungkin cerita hal ini ke temen-temen gue. Karena temen-temen gue pasti udah eneg banget dengan segala cerita gue yang kangen ama dia, betapa berharapnya gue kalo dia adalah the right one. Gak sampe hati gue untuk membebani temen-temen gue dengan cerita ini. Karena ini adalah kebodohan gue sendiri.


......then I'm gonna shut up now.