Pikiran WC di Pagi Buta


*sigh*

Gak bisa tidur gara-gara punggung sakit merana durjana. Fesbuk udah dikelilingin sampe bosen. Twitter udah dibukain setiap trending topic yang ada. Jadi harus ngapain lagi sebelum matahari akhirnya terbit dan menyuruhku untuk berangkat ke kantor?

Blogging? Hmm..udah lama gak blogging.
Lebih karena emang gue lagi ga ada topik buat diobrolin sih.
Hidup gue lagi flat. I mean flat adalah....bener-bener flat. Gak ada hiruk pikuk. Sebenernya gak papa sih emang. Gue justru lebih seneng kayak gini. Gue lagi gak pengen diganggu dengan kejadian-kejadian gak penting. Kerjaan. Omelan. Curhatan. Sampe urusan drama-drama kehidupan yang gak beda ama sinetron-sinetron di tv.

Gw lagi pengen tenang. Gw lagi pengen menjalani hidup dengan yang pasti-pasti aja. Tanpa harus mbaca pikiran orang, tanpa harus memahami orang dengan hati.

*sigh*

Mungkin gue sekarang ini justru malah lebih banyak mengeluh. Mungkin lho ya.
Atau mungkin karena gue sebenernya lagi gak tau apa yang mau gue lakukan dengan hidup gue?


*sigh*

Surat Terbuka Buat Pemda Jakarta

Dear Pengurus Pemerintah Daerah DKI Jakarta,

Gue udah lebih dari XX tahun hidup di kota ini. Kota metropolitan yang notabene merupakan ibukota negara Indonesia. Gue suka banget ama kota ini. Kota ini menyediakan kebutuhan gue dari A - Z deh pokoknya.
Cuman belakangan ini, setahun- dua tahun terakhir...kota ini makin lama, makin gak nyaman untuk ditinggalin. Mulai dari macet yang gak berkesudahan, banjir dimana-mana sampe transportasi umum yang nyaman hanya berjalan seumur jagung.

Sebagai warga yang baik, pengen deh gue ngasih ide untuk persoalan-persoalan yang mengganjal di kota ini. Hanya ide inisial yang mungkin terlihat sok tau juga sih....hey tapi at least I've spoken my mind kan? :-)

Berikut ini adalah beberapa dari masalah yang saya rasa pelik di kota tercinta kita ini plus beberapa ide untuk menyelesaikannya.
WHAT : MACET YANG TAK KUNJUNG PADAM
HOW :
1. Berikan batasan usia kendaraan, baik itu motor maupun mobil, yang boleh beroperasi di jalan-jalan Jakarta. Maksimal 10 tahun. Afterwards....jadi besi tua.

WHAT : BANJIR...BANJIR....BANJIR
HOW :
1. Spare budget daerah dan fokus pada pembersihan kali, relokasi pemukiman di bantaran kali dan pembangunan saluran air bawah tanah secara terpadu. Don't do anything else until this program said and done. Tentuin target selesai....1 tahun!
2. Kerahkan seluruh kontraktor, dengan imbalan tambahan untuk para kontraktor itu bahwa selama 3 tahun mereka bebas dari segala pungutan pajak.

WHAT : TRANSPORTASI UMUM!
HOW :
1. Paksa Organda DKI dan operator otobus untuk memberikan gaji tetep untuk semua karyawan otobus beserta tunjangan-tunjangannya.
2. Beri gaji tetap dan tunjangan operasional untuk Polantas. Ditambah bonus untuk setiap tiket tilang yang mereka peroleh dari para pelanggar ketertiban lalu lintas.
3. SIM diberikan hanya kepada mereka yang benar-benar mengerti peraturan tata krama berlalu lintas.

apa lagi ya? itu dulu deh....hihihihihihii

Senyum Indonesia

Hari ini timeline gue di twitter seru!

Ada beberapa kejadian di Jakarta hari ini :
1. Kerusuhan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (katanya sih karena sidang lanjutan penembakan di Blowfish).
2. Q! Film Festival di-demo oleh mahasiswa UI.

Okay.

Konon selama ini kita selalu jualan ke luar negri :
INDONESIA itu RAMAH.
INDONESIA MURAH SENYUM.

Tapi dengan kejadian hari ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dimana orang main bacok orang, bakar-bakar bus, bikin macet jalan sekeliling lokasi....

wah false advertising nih!

Gue sendiri gak tau duduk perkaranya. Tapi terlepas dari apapun itu, harus seperti itukah resultnya? Bunuh-bunuhan? Bakar-bakaran? After that what? Apa yang di dapet?

Untuk orang yang membacok dan membunuh itu...pernah berpikir gak ya nasib orang-orang yang ditinggalkan oleh orang yang dia bunuh?
Obviously NOT!
Karena jika dia bisa berpikir, maka hal itu gak perlu dan gak akan terjadi.

Let's just say bahwa hasil dari pengadilan itu ternyata tidak sesuai harapan? Ada cara-cara yang bisa ditempuh selain melakukan aksi anarki dan barbar macam itu kan?

Then again, gue rasa kita gak bisa melihat dari satu faktor saja. Karena ada beberapa faktor yang pada akhirnya membuat hal seperti ini (terus) terjadi di Indonesia. Faktor pendidikan, ketegasan pemerintah terhadap hukum dan sebagainya.
Tapi, menurut gue, hal yang paling mendasar adalah (mungkin) akhlak manusia Indonesia sendiri sudah semakin gak bener (jika dirasa menggunakan kata 'bobrok' terlalu ofensif).

--- ---- ------ $$$ $$$ $$$ ----- ---- ---

Untuk Q!FF, konon katanya yang demo adalah anak UI. Which surprises me, a lot. Gue pikir dengan mereka kuliah di universitas ternama, mereka diajarkan untuk menerima perbedaan. Perbedaan di sini yah segala jenis perbedaan lho ya. Lintas suku, agama, ras, antar golongan maupun sexual preferences.

Selama ini gue berpikir bahwa kaum akademisi, cieh..ketinggian ah bahasanya...mahasiswa yang berhasil lulus ujian masuk UI itu pinter-pinter dan open-minded.
Kenapa gue berpikir demikian? Yah iya donk...wong tujuan masuk UI (baca : universitas atau institusi pendidikan manapun) itu kan untuk membuka jendela dunia kan? Supaya jadi pinter dan tau segala hal. Berarti, siapapun itu maka dia siap belajar menerima kenyataan bahwa ada hal-hal di luar lingkungannya selama ini, sebagai suatu situasi maupun kondisi yang berbeda sama sekali. Baik itu dalam urusan nilai-nilai sosial maupun tata krama dan adat istiadat.

Tapi, dengan kejadian demo di Q!FF, gue jadi mempertanyakan keberadaan mahasiswa-mahasiswi yang ikutan demo di situ.
1. Apakah mereka memahami dengan bener apa yang ada di Festival tersebut?

2. Apakah rekan sejawat mereka gak ada yang LGBT juga?

3. Apakah mereka mempunyai kapasitas untuk menilai bahwa keberadaan festival ini akan membuat penontonnya (baca : peserta) bakal berubah convert menjadi kaum LGBT?

4. Emangnya mereka hari ini gak ada kuliah?

5. Lebih penting demo ngurusin hidup orang lain daripada menimba ilmu di kampus?

6. Last but not least, do they have the capacity to judge other people as if they're cleanse from all sins?



Pijet Pijat

Gue suka pijet! Abis stressful day in the office, trus pijet, hmmm pulang ke rumah rasanya enteng.

Kadang gue suka nanya ama diri gue sendiri mengenai pekerjaan mereka sebagai pemijat.

  • Whether are they ashamed of what they do for living?
  • Whether is it their choice for a profession?
  • Can they proudly say out-loud to other people that they are working as masseurs?

For me, terlepas dari mereka adalah pemijat beneran atau pemijat plus-plus, it is still a profession. Regardless apapun juga.

Buat gue, tanpa mereka, gak akan ada yang mau mijit kita untuk ngilangin rasa capek kerja seminggu, atau pegel-pegel karena keseleo atau kecekluk….

Suka gak suka, sadar gak sadar, mereka ini sedikit banyak berjasa lho buat kita. Walaupun mungkin banyak dari kita yang seringkali memandang sebelah mata untuk profesi ini. Kebanyakan dari kita cenderung ngeliat profesi sebagai pemijat itu adalah hal yang negatif.

Considering dari apa yang banyak terjadi, yah gue rasa cukup wajar jika kemudian profesi ini dipandang negatif. Tapi, jangan lupa kadang kita sendiri juga sebagai konsumen yang akhirnya membuat pandangan negatif itu menjadi ada. Contohnya yah ada beberapa bapak-bapak misalnya yang emang suka minta dikasih service extra. Atau ibu-ibu yang keganjenan yang doyan dipijet ama laki-laki muda ganteng dan brotot. Therefore, like any other thing in life, we ourselves takes our part in creating some point of view towards something.

In this case, can we blame them who choose to be a masseur in the first place?

Should we start to give more credit towards this profession? I meant in professional term. :-)

Banning RIM!

Kebutuhan manusia untuk bersosialisasi tiap tahunnya kayaknya makin meningkat seiring pertumbuhan teknologi.

Bagus? Tergantung.

Gw dah pernah ngebahas ini sih. Betapa kangennya gw sama masa2 dimana belum ada BlackBerry.
Semenjak ada BlackBerry...email kudu musti harus segera difollow-up. Klo ndak.....kerjaan numpuk. Considering sekarang kirim email dah kayak ngirim SMS. Thanks to Research In Motion Ltd.

Sebelum ada BlackBerry....kita bisa came up with excuse "gw ga ada koneksi internet. Jadi ga mungkin ngecek email sekarang"

Sebelum ada BlackBerry....saat kita sakit di rumah, istirahat total dimungkinkan.

Setelah ada BlackBerry....saat kita sakit di rumah, ada email gengges masuk inbox....pilihannya ada to reply or not to reply. Tp klo ndak direply koq numpukin kerjaan! Klo direply koq ya effort banget ya..Wong lagi sakit. *sigh*

So...is it BlackBerry improve our life?
The answer would be two-sided sword. In a way....BB membantu, mengimprove cara kita berkomunikasi. In other way...it takes out some part of our personal life.

Memang kita punya choice untuk tidak me-reply suatu email. Tapi apakah kita mau mengambil opsi tersebut setelah memikirkan segala konsekuensi yang akan terjadi dengan pilihan kita untuk tidak me-reply?

*sigh*

Gw ngerasa kadang kemajuan teknologi ternyata emang ndak bisa lepas dari pengaruh kapitalisme. Pengaruh ini ngebuat kita menjadi lebih konsumtif dalam konteks komunikasi. Then again, sekali lagi, itu ga salah juga. Considering komunikasi adalah kebutuhan basic manusia kan....

So...who's to blame aside from ourselves?


Sent from DendolBerry®

Get me a bathrooommm....So I can stop blaberring....

Dengan berkembangnya situs jejaring sosial belakangan ini....privasi kehidupan seseorang bisa dibilang secara tidak langsung ter-invasi.

Semua buah pikiran yang ada di benak kita, dengan mudahnya tersalurkan hanya sejauh ketikan dan sebuah klik di mouse komputer.

Tapi sebenernya sejauh mana sih etika nge-tweet maupun meng-update status di facebook?

Gue paham bahwa etika tertulis itu ndak mungkin ada.

Tapi, above all... internet adalah ranah publik yang sebenernya hampir tidak bisa untuk melarang orang untuk mengutarakan isi hatinya.
Dengan catatan tentunya tidak menuliskan nama. Perkara bahwa orang yang kita sindir atau kita gosipin merasa tersindir, dari pendapat egois gue....that's their problem. Therefore buat gue, they apparently memang merasa tersindir, then they do realize something wrong with them....
Tapi, buat gue mereka lebih tidak etis lagi jika membahas hal tersebut di luar ranah internet.

No matter what other people might say about you....when it comes to the net....it is something that you can not control. Maybe it is wise to take it as your feedbacks. To reinvent yourself. To be a better person.
Therefore if you wanna gain respect, you gain it by conscious and real.

What am I talking about?

I need a bathroom......ouch.....

After All This Time....

Setelah sekian lama, ternyata rasa itu masih ada.

Sebenci apapun untuk gue mengakui perasaan itu, gue gak bisa memungkiri kalo rasa itu memang masih ada.
Gak ngerti kenapa. Gak tau kenapa.
Bodoh? Yup...emang bodoh. Wong udah jelas-jelas dia gak punya feeling ama gue, tapi somehow, someway gue masih terus berharap....bahkan sampai sekarang.

Dia berhasil menyentuh satu bagian di dalam hati gue. Satu bagian yang gue sendiri juga gak tau di sebelah mana.

Tulisan ini sebenernya gak penting dan cenderung menjadi pengulangan. Cuman, kadang inilah yang gue butuhin. Gue butuh untuk nyari pelampiasan atas perasaan yang gak tertuang ini. Gue gak mungkin cerita hal ini ke temen-temen gue. Karena temen-temen gue pasti udah eneg banget dengan segala cerita gue yang kangen ama dia, betapa berharapnya gue kalo dia adalah the right one. Gak sampe hati gue untuk membebani temen-temen gue dengan cerita ini. Karena ini adalah kebodohan gue sendiri.


......then I'm gonna shut up now.

One Boring Post! Save Your Time By Not Reading It! Seriously!!!

Frankly speaking, I forgot already how to approach someone that I like nor to response someone who like me.

*sigh*

For me there are basic rules for this so-called 'PDKT' : if the one you like, responds half-heartedly then you should consider to leave him or her.
I mean, what for? Waste your time and energy to chase someone who doesn't want to be with you in the first place.

2nd rule : if someone liked you and you are not sure whether you want to be with him/her, then give them the signal. The signal that you wish or prefer with someone else.
What kind of signal? Hmm... you should figure that by yourself. Everybody have a different and millions way to give these kind of signals.

Although sometime, these rules doesn't apply in real life. Don't you think? When someone's in love, do you think that these rules will be obliged? Love makes us blind, that's true. You just simply won't care with anything nor what other people might say. All you know that you love that person and you want to be with him/her.

There are moments, when you are mooning over someone, with that stupid big grin upon your face when you remember his/her face, smile and their laugh. *sigh* I hate to admit it, but I do miss that moments. 

Like I said in the beginning of this post. I do forget how to approach someone. It's been quite sometime since the last time I got close with somebody. Even if I'm close with somebody, I did not know what to do, what to say, ...nor what to expect. I guess at one point, I decided to go with the flow. Letting nature takes its course on me. Sounds like a quitter, am I? Perhaps. Then again, I don't see wrong in that.

Before I go further, I should make a clarification upon this post. Many of you who reads my blog might think that this post is a reflection on something that happen in my life. But, not today. This is purely a thinking that I had this morning.

Back on the track...

I do admit that I had a lousy relationship. Perhaps that triggers me. Something has changed within me.  Something is not the same anymore.  I'm through with playing by the rules of someone else's game. 

So, when someone is approaching me, I tend to be ignorant. No matter how beautiful, perfect or compatible they are with me. I prefer to let them prove to me that they are the one for me. I want them to show me that they are worthy and that they can go the distance with me. Even if that would make them perceive me as spoiled guy then I am fine with that. They can have their own judgment on me. But, I'd prefer if they know the story behind that. 

Once I did try to get close with someone. Someone that I know, if things works out between the two of us, still it's gonna be a complicated relationship. But, then I'm backing-off. When I feel that I did all the effort to get to know each other. Well...apparently I did see the sign. *sigh*

It's not easy. Especially since I started to develop feelings. But, I'd rather to back-off in the early stage before it gets too far.

We tend to be a stupid person when we're in love. It's basic knowledge. There's nothing wrong about that. But, it's a problem when things gets too far but there's no vice versa effort from this someone you like.
We should value ourselves more. No matter what. Don't fool yourself by chasing the dream you wanna build with someone who doesn't want to be with you. If it's love, then it's comes with much too higher cost. Don't let them bring you down.
You're worth of something. And someone is worth to be with you. 

Then again maybe it's time to trust your instinct. Time to trust my instinct.

True Blue

Hari ini ngedengerin lagi lagu nya Mbak Uthe - Mengertilah Kasih. Untuk yang, entah keberapa kali nya.

Dulu sebenernya gue udah pernah nulis tentang lagu ini. Tapi, ndak tau kenapa deh, koq gue pengen nulis lagi ya.
Kalo kayak kata anak-anak ABG sekarang : "Lagu ini guweh banget gethu lho!!!!"

Gue rasa gak banyak yang tau kalo lagu ini liriknya dibikin oleh Alm.Indra Safera.
I must admit, he wrote good one. Di-compose oleh Andi Rianto, which makes it more awesome (for me, at least).
Gak banyak yang tau atau suka lagu ini. Mungkin karena terlalu menye-menye kali ya.
Well...no wonder. Baca aja liriknya. Nah kalo mau dengerin coba ndenger di YouTube

Cintamu kudamba
Walaupun tak pasti
Kuhadirkan sayang di s'tiap langkahmu
Sampai kapan kasih kan kutunggu
Kasih sempurnakah cinta kita?

Ketulusan cintaku
Bagai angin lalu
Keraguan itu masih s'lalu ada
Sampai kapan kasih
Bahagia 'kan tercipta?

Mengertilah kasih, pintaku kini
Satu yang tersisa lagi
'Tuk lengkapi hidupku, oh kasih
Waktu tak menunggu
Hari s'makin senja
Pastikan kasih, coba 'tuk mengerti

Andai saja dosa itu
Tak pernah kusentuh dulu
Kembali percayamu... sayang 

Sempet BBM-an ama temen gue, trus ngomongin lagu ini. Dia nanya ..."Dosanya apa nih?". Hahahaha....bodoh ya.

*sigh* lagu ini selalu berhasil ngebuat gue menghela napas. Ndak ngerti kenapa.
Secara garis besar, mungkin lagu ini emang reflecting my own life. Keinginan untuk memiliki seseorang yang gak mungkin gue miliki. Semua effort rasanya udah dijalanin. Tapi, tetep gak menggerakkan hatinya untuk gue. *sigh*

Sementara gue paham bener kalo waktu itu gak bisa berhenti. Waktu berjalan terus. Sehingga pada akhirnya mungkin gue gak akan memiliki dia sama sekali.

Cuman bedanya dalam kasus ini....gue hampir gak berdosa dalam suatu hubungan. Itu kalo 'Dosa' yang dimaksud adalah selingkuh dan sebangsanya ya......

*sigh* ah udah ah....ndak mau nulis lagi. Lagi pengen meng-haru biru.

Ide Yang Buruk

Menyayangi seseorang kedengarannya bukan ide yang buruk. Apalagi mencintai seseorang. Iya ndak?

Tapi, diantara semua bentuk cinta-cintaan...buat saya ada satu bentuk yang paling buruk. Mencintai seseorang sebelah tangan.

Yup...setidaknya hal itu berlaku untuk saya. ;)

Ada sebuah kutukan kurasa di keluarga saya. Kutukan itu membuat kita semua; jika sudah kadung cinta ama seseorang, biarpun sebrengsek apapun orang itu; biarpun bertepuk sebelah tangan ...kita tetap akan mencintai orang itu walaupun rasanya sakit.

Kontradiktif memang! Pertanyaan saya adalah : apakah yang namanya cinta harus disertai dengan rasa sakit? Bukannya cinta itu adalah energi positif yang seharusnya bisa menghilangkan rasa benci ataupun sakit?

Well..reality does bite. Life is all about balance. Love and hate. Pain and joy. Semua saling terkait satu sama lain. Ibaratnya rantai DNA. Itulah yang menjadikannya hidup. Itu semua datang dalam satu paket.

Saya mencintai orang yang sama selama hampir 4 tahun. Dan sejujurnya saya tidak pernah benar-benar ngelupain dia. Seperti yang sudah bisa ditebak jalan ceritanya ...dia tidak punya perasaan yang sama seperti yang saya miliki. Jadi...bertepuk sebelah tangan lah akhirnya.

Setelahnya saya akhirnya memulai beberapa hubungan yang rata-rata hanya berlangsung selama 1 tahun. Rata-rata karena apa yang saya inginkan dan yang mereka mau, tidak berada dalam platform yang sama. So, we've ended.

Menyesal? Sama sekali tidak.
Karena setiap kejadian justru membuat saya semakin tau dan belajar tindakan preventif untuk mencegah hal yg tidak diinginkan terjadi untuk kesekian kalinya.

Walaupun ada harga yang harus dibayar untuk itu : perasaan cinta yang tulus tanpa ada pretensi ataupun kecurigaan, cenderung hilang.

Mungkin saat-saat ini ada seseorang yang secara tulus mencintai saya tapi ....saya mungkin menjadi sosok yang cenderung cuek dan justru tidak menghargai segala effortnya.

Jadi saat ini saya pikir : mencintai seseorang (saat ini) ternyata adalah ide yang buruk. Setidaknya selama saya masi dalam kondisi siaga 1.... :)


Sekarang, aku sendiri. Single. Singleton. Alone.
Sedih? Hmm...not really.
Sent from NdolBerry®