Life : There's More Than Meets The Eyes - A Tribute to Na

Saya sadar sepenuhnya kalo diri saya bukan manusia yang sempurna. Saya juga yakin tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Karena itulah yang di atas menciptakan kita tidak sendirian. Supaya kita bisa saling membantu satu sama lain, mengisi kekosongan dan saling melengkapi.

Apa yang kita ketahui, mungkin tidak diketahui orang lain. Apa yang orang lain ketahui, mungkin tidak kita ketahui. Semua harus berjalan dengan seimbang. Setidaknya itu yang saya percaya selama ini. Terutama when it comes to a relationship. Having one person being dominant in a relationship is natural. When one person becomes the head, then another one should be the neck. They have their own function but yet, they complement each other.

Tapi, seperti semua bentuk hubungan...adakalanya terjadi perpisahan. Seringnya, perpisahan dianggap sebagai musibah, tragedi atau kejamnya nasib (hayahhhh....).

Dulu saya mungkin akan menjadi orang yang merasa dunia seketika runtuh saat berpisah. Tapi, manusia harus berkembang seiring waktu. Dia harus evolve menjadi orang yang (insyallah) lebih baik dengan segala pengalaman hidup yang telah dijalani seseorang.

Kalo misalnya dilihat dari sudut yang berbeda, bisa jadi sebuah perpisahan merupakan pelajaran berharga yang menyamar. Mungkin itu merupakan jawaban, di luar rasa sakit, sedih dan pahit yang ikut bersamanya. Lagi-lagi waktulah yang akhirnya bisa membuat kita mengerti itu semua. Jadi jika ada pepatah yang bilang "time heals".....itulah makna sebenarnya.

Banyak orang yang merasa perpisahan sebagai musibah. Padahal kalo diliat dari sudut yang berbeda, semua peristiwa buruk yang terjadi di dalam hidup kita hanya sebuah packaging aja koq. Di dalam packaging itu ada sesuatu yang lebih berharga jika mau kita resapi, rasakan dan hayati. Perpisahan kadang bisa jadi merupakan sebuah jawaban. Sepahit-pahitnya, perpisahan memberikan ruang spasial baru untuk melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda. Membuat kita menyadari bahwa there's more in life than meets the eye. Modalnya tinggal sabar ama waktu.

Setiap dari kita menyukai perjumpaan. Selalu ada harapan baru dan segar yang muncul dari sebuah perjumpaan dengan seseorang.Tapi seringnya kita tidak menyongsong perpisahan dengan sikap yang sama. jika kita kilas ke belakang, adakah perpisahan yang masih kita sesalkan? Dan dari segala perpisahan yang terjadi dalam hidup kita, berapakah di antaranya yang sudah menerbitkan pelajaran atau hikmah yang indah? Sepotong kata “selamat tinggal” atau “putus” kadang menjadi pil pahit yang amat kita hindari. Namun ibarat sebutir obat yang kita minum saat sakit, justru lewat kegetiranlah kita belajar menanggulangi sesuatu. Hati kita semakin kuat. Perjalanan hidup semakin bermakna. Dan, saya percaya, segala sesuatu dalam hidup ini tidak pernah ada yang sia-sia.

Sing sabar ya, na!

No comments: