Christmas Drama


Finally, I’ve got the time to write something again…

Udah beberapa minggu terakhir ini, gue didera ama masalah-masalah aneh di kantor.

Well, anyway…here we are in the last days of 2006. Ketemu ama Babbo Natale lagi dengan little helpers-nya di Toy-Land. Ketemu lagi ama pohon-pohon natal meriah di Metro department store. Ngedengerin lagi lagu-lagu natal yang terkadang bikin gue jadi mellow. Huehehehe….Drama King 01

For those who celebrate Christmas, did you wait for Santa to come and give you presents when you were little? Gue sih gak. Karena dari kecil gue tau kalo Sinterklaas itu cuman dongeng belaka. Anehnya…sekarang gue justru expecting this ‘ho-ho-ho’ fat guy with red jacket to come to me and give me presents. Rada absurd sih tapi, gimana ya? Mungkin gue udah kepalang capek ngadepin realita terus-terusan dan sekarang gue pengen balik ke dunia mimpi. Apa coba? Drama King 02

Kalo gue ketemu ama Sinterklaas, kira-kira apa ya yang gue minta? Gue pengen punya someone who I can grow old together with…someone who will cherish me, love me till death do us apart. Then again siapa sih yang gak kepengen dapetin hadiah kayak begitu? Huehehehe….Drama King 03

Gosh…gue benci kalo gue lagi jadi drama king gini. Gimana ya…setiap natal, gue emang selalu ngerayain sendirian. Keluarga gue bukan tipikal keluarga yang merayakan hari raya secara istimewa. So, that makes me as the only person who celebrates and cherishes Christmas every single year. I always hope that someone would come along and accompanying me for Christmas. At least I don’t want to be alone on Christmas Eve. What about my friends? Well…what do you expect? They have their family to celebrate with or maybe their partner.

Ah…mungkin gue lagi jadi anak nakal. Makanya Sinterklaas gak datengin gue…bisa-bisa malah si pit hitam yang nyatronin gue. Hihihihihi

Anyway…Merry Christmas teman-teman. Sekarang gue cuman minta satu hal aja …ingetin gue untuk selalu bisa terus nulis. Hehehehe…..

The Other Significant Other


A conversation in phone with a friend of mine.
Den : LU GOBLOK!!!

Wid : Iya, iya gue tau gue goblok. Tapi, gimana? Gue suka ama dia. Emang sih belum suka as in suka ‘I love you’ kinda thing. Tapi, gue suka ama ni orang.

Den : LU TOLOL!!!

Wid : Iya, gue tolol. Gue tau dia udah ada yang punya. Gue salah banget waktu ketemu ama dia lagi. Kenapa juga gue ketemu dia setelah udah jelas-jelas dia bilang kalo dia balik ama mantannya? Tau kenapa? Karena gue suka ada di deket dia. Udah lama, Den. Udah lama gue gak ngerasa kayak gini.

Den : LU GILA!!!

Wid : Emang gue gila! Gue gila dan gue jahat. Gue manusia yang paling menjunjung tinggi yang namanya kesetiaan dan komitmen, sekarang malah gue jadi orang yang berpeluang untuk membuat kesetiaan ama komitmen itu jadi sia-sia. Gue bisa-bisa ngancurin hubungan orang lain.

Den : Wid, terlepas dari dia happy ato gak karena balik ama mantannya. Lu gak bisa, lu gak boleh dan lu seharusnya sadar diri untuk menjauh.

Wid : Emang gak mungkin ya untuk temenan aja seperti biasa?

Den : Bisa aja sih, tapi mungkin gak menurut lu? Mungkin gak kalo keduanya bener-bener udah gak punya feeling satu sama lain?

Wid : Gue pribadi sih yakin gue bisa untuk seperti itu. Selama dia juga gak berbuat yang macem-macem. As in playing, fooling around with my feeling.

Den : Emang sih. Susah untuk ngindarin itu. I know that. Tapi, lu harus. Setidaknya kalo lu mau nunggu dia, yang which is gue yakin penantian lu itu sia-sia ato setidaknya butuh waktu yang lama, lu harus nunggu di belakang. Istilahnya ‘GET IN THE LINE, BITCH!!!’


Selingkuh, gak pernah ada indah-indahnya!!! Jadi, bullshit banget buat orang-orang yang sering ngomong kalo selingkuh itu indah. Selingkuh tuh cuman bawa perkara, malapetaka dan bencana buat hidup lu, orang yang lu suka sama orang yang jadi partner resmi dari orang yang lu suka.

Kayak yang gue bilang ke Wid, terlepas dari alasan apapun gebetan lu balik sama mantannya, kenyataan bahwa lu gak dipilih oleh dia, itu udah cukup ngebuktiin bahwa you’re not worth enough for him/her. Lu gak seberharga itu untuk diperjuangin oleh dia. Dan itu udah merupakan alasan yang cukup untuk stop everything. Enough is enough.

You may think that you might found someone who is right for you. Tapi, dia akhirnya milih untuk balik ama mantannya. What can you say? Lu mau bilang bahwa lu bakal berjuang sampe titik darah penghabisan untuk ngedapetin dia? Bisa aja sih, tapi kalo lu adalah gue, orang yang sangat menjunjung tinggi komitmen dan kesetiaan, lu pasti bakal ngerasa bersalah terus-terusan. Bersalah karena lu menjadi pihak ketiga yang membuat kemungkinan mereka bubar jalan semakin besar. Iya sih, lu pada akhirnya bisa ngedapetin that particular someone. Tetep aja that guilty feeling lu akan terus ada. Karena lu membina hubungan di atas penderitaan orang lain.

Cinta gak selalu harus berarti lu ada di sebelah orang itu koq. Logikanya memang absurd untuk ungkapan ‘cinta tidak harus memiliki’. Tapi, somehow I just believe it’s true. Sakit…iya lah sakit banget. Saat harapan lu udah tumbuh semakin besar bahwa hubungan ini awalnya bisa menjadi hubungan yang lu impikan selama ini, tapi ternyata harus hancur begitu saja. Pasti sakit banget rasanya. Cuman, time heals koq. Gue percaya satu itu. Gue percaya kalo saatnya tiba, you will look into the past and you will laugh at it.

Bayangin aja seorang concubine (gundik/selir/. Seorang concubine gak bisa nelpon ato sms untuk bilang ‘I miss you’, karena si pasangannya melarang. Karena pasangannya takut kalo the official partner bisa ngebaca cell phone-nya dia. Seorang concubine gak bisa minta dipeluk waktu dia lagi kedinginan karena pasangannya ada di rumah bersama official partnernya. Seorang concubine gak bisa ngerencanain jalan bareng karena pasangannya udah punya rencana lain ama official partnernya.

Being the other person, you have no other choice and you have no right to expect more from your lover. Unless, dia yang ngeluangin waktu untuk ketemu lu. Waktu yang dia ambil dengan sembunyi-sembunyi dan berbohong sama official lover-nya.

Gue pernah bilang sama beberapa temen-temen gue yang baru mulai pacaran ato kawin (siapa pula gue ngasi nasehat soal hubungan? Hehehehehe….), gue bilang,

Yang namanya awal-awal hubungan, 3 sampe 4 bulan pertama, pasangan itu masih menjalani fase honeymoon. Semuanya masih indah. Tapi seiring waktu berjalan, grafiknya bakal ngebentuk huruf ‘U’ kebalik. Naik ampe puncak terus turun lagi. Itu gak bisa dihindarin. Tapi, kalian berdua harus bisa, mau gak mau, untuk ngelewatin itu semua. Karena hal itu wajar dalam hubungan. Semua hubungan bakal kayak gitu.”

When feelings is involved, kadang logika pun udah gak berguna lagi. Logika udah gak bisa berpikir sehat. Jadi, gue gak bisa nyuruh siapapun yang berada di posisi sebagai the other person untuk menghentikan semua itu begitu saja. Cuman diri lu seorang yang tau kapan harus berhenti. Cuman you must understand the risk and the situation yang bakal lu hadapin ke depannya nanti. Always prepare for the worst case scenario.

Andai gue yang ada di posisi sebagai the other person, mungkin gue juga gak akan menghentikan semua itu. Semua back-street affair itu. Karena, gue pastinya udah terlanjur sayang ama orang yang bersangkutan. Dan akan berat banget buat gue menghentikan ini semua. Kecuali kalo orang yang gue sayang ini yang memilih untuk meninggalkan gue then I will be hurt for a while but, at least I know what to do next.

Frankly speaking, don’t ask me to leave you. Coz, I don’t think I want to do that. Even when I know the fact that if this thing really works out, it will become a relationship that built on other people sadness and misery.

Maybe being friend bukan opsi untuk 2 orang yang saling menyukai (bahkan mencintai). Terutama bila salah satunya memutuskan untuk kembali memiliki pasangannya yang dahulu. Karena in the end, cuman perasaan sakit, hancur, sedih dan masalah yang menunggu di ujung jalan sana untuk orang-orang yang terlibat dalam hubungan ini. Mungkin kalo lu pengen jadi temen ama orang yang lu sukai ini, pake prinsip seorang geisha. Prinsip itu adalah :
"BOLEH DILIHAT, DIPEGANG JANGAN"





Something About My Dreams


Tell me, who in this world that has no dream? Come one … for once in your life admit it. You do have dream even though it is hard for you to tell or to admit. Hahaha…come on, come on. Let’s open yourself a little bit.

As for me, for the very first time in my life,
I think about sharing you some of my dreams inside my tiny, little, puny, miserable head of mine. Though I have to admit I’m a little bit afraid. Coz it’s like opening my self to the public. Where everyone can read me like an open book.

➢ Dream job.
Hmm…I love advertising. No matter how many times I said that I want to get out this field, somehow I just loved it. I love the pressure. I love meeting new peoples. I love the friends. I just love the atmosphere. So, yeah, I wish that I had a good career in advertising someday. Somehow I will try to manage it and make it happen at any stakes.

➢ Dream house. Not much about this one.
I’m quite happy with where I live now. Though I have to admit it needs some fixing at some parts … well, most parts of the house. But, once it managed I think it will be great. My dream house would be something like…small, with not so many rooms. At least just enough room for me and my guests when there are some around. With green yards and a fountain. The furniture should be fluffy, warm and cozy. With warm lights when the night comes. A cable TV would be nice. Also a clean, sleek and modern kitchen … ooohhh … I would love to have that, as I want to cook everyday. So ladies and gents, you’ll be glad to have me as your partner. Hehehehe…I guess that’s enough for subject dream house.

➢ I always want to have a … maybe
some dogs in my house. You might find it disgusting but I always love sleeping with my dogs. I used to have a dog when I was little. He always slept on my bed, near my feet. I always remember how every morning he licked my face to wake me up. And I miss that. Hehehe…a golden retriever (Pooky) and a labrador (Odie) would be sufficient.

➢ Music is something that I love. I love music so much, it’s even affects my mood sometime. Unfortunately, I can’t play any instruments. I played a little bit of violin and saxophone. But, it was a long time ago. Guess I already forgot how.
So, it would’ve been a dream if I can learn it again. Or maybe have someone to play it for me.

I don’t want to become an employee for the rest of my life. I want an early retirement. So, I can enjoy more of life.

I want to teach in the kindergarten. I want to be a story-teller. Hehehe…maybe some of you would be surprise when you read this. But, somehow I’ve always got a way with kids.

I want to walk down at Champ-Elysess on Christmas. Drinking café au lait. Some company would be nice.

I want to go to Tuscany. Spend 2 days summer there. Watching flowers and enjoying the local culture. Hehehe…bit cheesy? I know. But, hey come on, it’s my dream. I can do whatever with my dream.

I want to stop working. Hehehe…don’t we all? But, somehow still manage some money to support my hedonistic life. Hahahahahahaha…..

➢ I want to make drastic changes in my life. Like
move to another country, starts a new life. Hmm…Switzerland sounds great. Tuscany also. Hehehe…bought a house …maybe a small flat.

Market day in Cortona is a nice place to visit when you’re around Tuscany. It would be a nice place for honeymooners. One side of me just being opened … call me romantic, oh I guess I am so.

I want to have a house in Ubud. A small house but with wide garden. Lush surroundings, birds chirping around. There’s rice paddy field near a river so I can play around just like a child. Hehehehe…

➢ Like my friend, Joshua,
I also always want to write a book. A book that I wrote myself. Surely, it will be a plus if the book can be adapted into a motion picture.

➢ Last but not least. This is something I’ve been keep writing again and again. It is my biggest dream ever.
That is to find someone who actually wants to live with me, love me and cherish me till the day God decided to take us apart. I want to find someone that I love. Someone I can grow old with. Someone who will take care of me when I’m sick. Someone to argue about which color should we use on our bedroom. Someone to argue about who is gonna take Pooky and Odie to the vet. Someone that I can go monthly grocery shopping with. Someone that I can hug every night and to whisper that ‘I love you’. Ahhh….wishful thinking? Hope not.


Ahh…dreams.
Some people might say that some dreams are just dreams. But, for me it is something you should achieve. Sometime also, we won’t get everything we want in life. Sometime, something that we wished for is materialized in some other way, in some other thing.

Whatever your dream is, you have to make it come true. No matter what. Sometime when you have eliminates the impossible, somehow the truth will reveal itself and shows the path. So, see beyond. Trust yourself. Pull yourself together and make that dream come true.
Even when it can’t come true, don’t let yourself down. There’s got to be something behind of everything. Something good must be there. Besides, God works in His own mysterious way, isn’t He? So, watch the signs. Who knows it is a sign that will help you to achieve your dream.

One Fine Day - A Note From The Past


one fine day
you'll look at me
and then you'll know our love was
meant to be

one fine day
you're gonna want me
for your girl, oh yeah

the arms I long for
will open wide
and you'll be proud to have me
right by your side

one fine day
you're gonna want me
for your girl

though i know you're
kind of a boy
who only wants to run around

i'll keep waiting
and someday, darling
you'll come to me
when you want to settle down

one fine day
we'll meet once more
and then you'll want the love you
threw away before

one fine day
you're gonna want me
and one fine day
you're gonna want me
and one fine day
you're gonna want me
for your girl

You want to hear this song? Download it here


Gue gak jago ngebedah lirik. Tapi, gue bisa baca dan gue ngerti bahasa Inggris. This song meant a lot for me. Terserah deh, lu mau bilang gue sok mellow ato apapun. If I become a singer and a songwriter…this is the kind of song and lyric that I will make and I will sing it from the bottom of my heart.

A song about love and hope, that simple. Hope that I will find so
meone who will care for me like the way I want. Someone who will cuddle me into sleep, put me on a blanket in the middle of the night when I feel cold then hug me real tight and warm. Someone who will love me and cherish me for good. Someone who shares the same dream. But, then this someone threw me out of their life.

Gue denger lagu ini untuk pertama kalinya waktu nonton film One Fine Day di bioskop (sendirian pastinya!). Lagu ini jadi lagu openingnya. By the time I finished watching this movie, gue langsung beli soundtracknya. Then again emang ini kebiasaan gue setelah nonton film yang gue suka banget biasanya. Listen and listen, trus lama-lama gue jadi suka banget ama lagu ini.

Somehow saking seringnya gue denger lagu ini, gue jadi ngerasa kena tulah dari lagu ini. Taken for granted. Hehehe…gue rasanya makin expertise di area ini.

Mungkin salah gue juga yang terlalu gampang fall in love dari dulu. You see…this is my bad habit and I think it’s a curse that runs in my family. When I love someone, which is so easy to make me love someone, this particular someone already have all of my heart. And it’s easy to make me die (hyperbolically), just say goodbye to me and then you fulfilled the task. Karena kebiasaan itu pulalah yang akhirnya ngebuat gue jadi taken for granted oleh siapapun. Tipikal manusia yang habis manis sepah dibuang, that’s who I am. Hehehe….

Gak pernah gampang waktu lu fall in love. Bahkan waktu saat-saat lu nyangkal kalo lagi fall in love. Lu gak akan pernah tau kapan bakal jatuh cinta. Lebih sakit lagi waktu lu jatuh cinta dan lu mengira udah ketemu ama orang yang lu pikir punya semua yang bisa lu impiin. Rasanya kayak it’s too good to be true. From that experience, gue belajar satu hal yang baru. There’s no such thing as perfect.

Yes. I once met this kind of person. Seseorang yang gue rasa bisa jadi someone that I will spend the rest of my life with. Seseorang yang gue rasa dia punya mimpi dan keinginan yang sama kayak gue. Seseorang yang buat gue sempurna. Tapi, dia punya kekurangan. Kekurangannya adalah dia gak punya kekurangan. But, I once said, kalo misalnya things just doesn’t work between two persons, just say it. Don’t run and hide. And I respect this person for doing so. It hurts like hell. But, I would prefer that way and become friend. Rather than run and hide with no further explanations. Whether we will become friends afterwards, I can’t tell. It is what I want. But, one can not force somebody to become friends. Maybe the relationship was way too hurt to remember. Besides time heals.

So,
It was one fine day. One fine day. Really, one fine day. I want to say that I’m willing to wait for you. But, I am also afraid if I will make the endless waiting. Though I don’t mind to wait. What is time when you have the chance for eternity?

Maybe it is my fate to be alone with my dream. Then again no one asked what my dream is, until this person came along and asked me the question.

Then…it’s all gone just by minutes. It’s been a while since I felt that way. The feeling of being struck by a million of spears.

It’s all in the past. That one fine day is in the past.

I can’t and I don’t want to fall in love again (for now and for quite sometime).


PS. I don’t even know what I am writing about. So, please whoever read this article, please ignore it.
A sound from the past. A scream in silence. A tear that fall in the depth of darkness. Let me be alone.




Age Equals Maturity ???


Umur.
Seberapa penting sih peran umur untuk kedewasaan seseorang?

Semakin berumur seseorang, jelas pengalaman hidup seseorang jauh lebih banyak dibanding orang yang lebih muda umurnya. Tapi, gue gak bisa menerima konsep bahwa seseorang yang umurnya mungkin lebih muda lantas dianggap gak dewasa. A little bit unfair ya?

Once my friend said to me,
“Age is only a matter of numbers. Being mature is all about choice”

Kasarnya dalam bahasa Indonesia,
“Jadi tua itu pasti. Jadi dewasa itu pilihan”

Banyak orang yang gue temuin masih berpendapat bahwa orang yang berumur under 20 or under 25, belum berpikiran dewasa ato bertindak dewasa. Okay…can’t deny that. Maybe some of us still young at heart and mind. Tapi, at least akan ada sesuatu yang bisa kita pelajarin dari yang lebih muda. Then again learning process gak bisa berhenti hanya di sekolah dan orang-orang yang lebih berpengalaman kan? You can learn from anything in life.

In a relationship, juga gue rasa gak beda jauh. Masih banyak orang yang ogah pacaran ama yang lebih muda. Kecuali orangnya emang punya physical attraction yang amat sangat, so it is hard to resist to say no.

Kenapa males pacaran ama yang lebih muda? Hehehe…mostly kalo gue rangkum kurang lebih karena :
Gampang ngambek.
Rasanya capek ya kalo punya pacar yang gampang ngambek. Kalo ngambeknya bercanda sih ndak papa. Tapi, kalo udah mulai ngambek2 gak penting kan males bener.

Gampang curigaan dan parnoan.
Nah ini neh yang paling ngeselin. Curigaan kalo sms gak dibales, curigaan kalo pacarnya gak nelpon seharian. Boo…kalo pacar lu kerjanya jadi marketing director salah satu FMCG besar, understandable kalo dia gak bisa available untuk setiap saat dunks.

Money boy/girl.
Need I say more? Cowok matre/ cewek matre…ke laut aja.

Out of nowhere, bisa-bisanya sms “Koq gak ada kabar? Kamu marah ya?”
Hampir mirip ama alesan yang di atas. Kadang kan kita gak bisa ya langsung bales sms begitu kita terima sms dari pasangan kita. Tapi, kalo misalnya emang lagi berhalangan ya…jangan lupa untuk nelpon balik ato sms balik ke si pasangan bersangkutan.

Dugem.
Susah neh…kalo pasangan gue demennya masih dugem. Sedangkan gue lebih suka tinggal di rumah, cooking together, watching DVDs and small stuffs.

Masih demen lirik kanan-lirik kiri.
Yah, susah juga sih kalo ini. Udah tipikal kalo liat barang bagus susah ditolak. Selama inget aja…lu udah punya partner lho. Hehehehe…


Apapun alesannya, kedewasaan adalah sesuatu yang gak bisa dinilai dari umur. Banyak orang yang gue temuin, yang umurnya jauh lebih tua dari gue, malah berpikiran picik, egois dan childish.

If you are an adult, maka seharusnya sudah layak dan sepantasnya untuk bisa menerima dengan pikiran yang terbuka bahwa setiap orang punya tingkat kedewasaan yang berbeda-beda. When you find someone that less mature than you…then it is your duty to help them grow it. If they do not want to be help, then at least you’ve tried and you’ve understand them.

Di Advertising. COOL? Masa? Really?


Sebuah percakapan :
A : Kerja di mana?
B : Di advertising.
A : Really? Cool.

I mean what’s so cool working in advertising?

Lembur terus.

Jam kerja yang gak pasti (so much for 8 to 5 theory!!!).
Bikin presentasi campaign yang akhirnya gak akan dipake oleh klien though they might like it and they’ll love your office more with some addition they’ll love you only if they knew that it is you who stood up all night thinking and making that presentation.

Gaji yang oke.
Emang sih…to a certain point gaji emang termasuk kategori oke punya. Tapi, for how long sih? Awal-awalnya emang mungkin gajinya berasa gede…lama-kelamaan setelah dipikir-pikir dengan pola kerja yang sedemikian beratnya, koq rasanya gak worthed ya? Abis-abisan kerja untuk perusahaan, trus gak ada apresiasi dari company untuk karyawannya. Kerja untuk aktualisasi diri, untuk pencapaian diri sendiri? Oke…still tapinya sampai kapan?

Bisa belajar untuk bikin iklan yang bagus.
Halah boooooo…hari gini ilmu emang mahal harganya. Dari pengalaman gue yang emang baru seumur jagung, gue tau lah ketemu ama creative director yang terkenal gak ada jaminan bahwa lu bisa belajar untuk bikin iklan yang bagus. Palingan mereka cuman bisa bilang “Ini jelek.”, “Ini bagus.” Dan bla..bla..bla…lainnya. Secara kalo mereka mau nge-share ilmunya bisa-bisa orang yang diajarin lebih bagus dari dia dan malah dianya keilangan pasar yang butuh kemampuannya dia dunk.
Iklan yang bagus pun gak harus keluar dari sebuah agency. Ibu Dibyo yang tukang jualan tiket malah gak perlu beriklan sama sekali, udah bisa terkenal seantero Jakarta.

Kan bisa menang award, booooo!!!!!
Udah banyak koq award-award yang bisa diikuti perseorangan. Lagian begitu lu menang award ya that’s it. Emang secara harga jual mungkin lu bisa matok harga yang lebih mahal. Tapi, lantas apa? Kalo mahal juga, akhirnya belum tentu ada yang mau kan hire lu. It’s all about networking. If you have the network, then you have it all. Belum lagi kalo lu sombong karena udah menang award…gue sih males ya bow kerja ama orang yang gak membumi biar sehebat apapun orang itu.

Bukannya kerja di advertising asik ya? Have fun, go mad every single day.
Iya sih…trus sampe kapan lu mau begitu? Masih mau lu, waktu umur lu udah mid-30’s dan lu masih hang-out di tempat-tempat dugem? Duh saatnya malu ama umur. Lagian juga itu asiknya cuman pas malem weekend ato malem acara-acara anugerah-anugerahan yang lama kelamaan gue yakin pasti bakalan jadi basi.

Ih hebat lho dia kan yang bikin iklan ini-itu….(pengen jadi selebritis!!!!)
Bo…pulang ke rumah trus tanya deh bo ama orang rumah. Kenal gak ama yang namanya David Ogilvy ato Fajar Rusli ato Roy Wisnu ato Ronald Wong…..bo gue yakin taruhan 1 milyar untuk jawaban mereka pasti “Siapa tuh?”. Mau terkenal? Mending ikutan Indonesian Idol. Nista, nista deh…tapi jij terkenal. Masuk tipi lagi. Hehehehe….
Mungkin memang kerja di advertising agency tuh keren. Gue pun mengakui itu. Tapi, that’s it. Nothing more. Orang-orang di agency gak ada bedanya ama karyawan kantoran biasa koq. Malah mungkin buat gue, orang agency adalah orang-orang yang bisa-bisa malah keilangan hidup pribadinya hanya karena klien, brand dan kantornya sendiri.


Kenapa gue bisa mikir kayak begitu? Waktu gue ada di kantor gue yang terakhir…gue tiba-tiba bertanya iseng-iseng, “Waktu yang gue abisin di dalam satu hari hidup gue, lebih banyak untuk urusan kantor ato urusan rumah ya bo?”. Setelah diitung-itung, rasanya setengah dari hidup gue waktu itu abis untuk kerjaan. Dan koq rasanya udah gak sehat ya booooo…

Bukannya harusnya bisa balance ya? Work hard, play hard. Tapi, to some extent rasanya idup kita abis untuk kerja. Temen-temen gue akhirnya yang pada menikah pun mayoritas meninggalkan dunia advertising. Gue yakin pasti mereka juga pada kangen dengan hiruk-pikuknya dunia advertising. Tapi, I think sometime it is better to miss it rather than go back into pit of shit.

Gak mau dunk…hidup 30 tahun dan masih single, susah nyari pacar pula. Sampe-sampe begitu ketemu someone special….keburu takut ditinggalin, keburu takut dikecewain…..hehehehe.

Yes, I know someone like that. And she is my best friend yang sangat sulit gue yakinkan untuk go out and get married.

Last word…working in advertising agency is not as cool as you think.

Finito!!!


Selalu saja kau dapat membuatku maafkan salahmu.
Dan kini kau ulangi lagi salahmu yang itu-itu saja.
Kecewa ku dibuatmu.
Terluka karena sifatmu.
Dan kini ku tak mampu bertahan lagi.
Kuakui dirimu pernah berarti.
Dan memang hidupku hampa tanpamu.
Namun lebih baik kusendiri.

Simpan saja rasa di hatimu
Sudah lupakan.
Hasratku tak lagi untuk saling bercinta.
Sudah sampai di sini.

Dalem ya boooo….teriakan, jeritan serta rintihan hati gue neh. HUAHAHAHA…
Lagu ini adalah lagu yang pertama kali setelah sekian lama gue puter di iTunes dan direpeat terus menerus. Sampe temen-temen kantor gue pada teriak “BOSEN!!!”.

Eh, sorry dunk. Speker, spekernya gue. Musik, musiknya gue. Dan gue kan lagi galau. Toh gue juga gak nyetel sekenceng-kenceng soundrenaline.

Pertama kali denger sih di La Piazza, Kelapa Gading minggu lalu. Trus lagu ini punya tune yang very catchy and easy listening. Ditambah lagi penyanyinya cukup fresh dan enak untuk diliat. Personil bandnya juga cukup hip. More or less kayak Maliq n D’Essentials.

Gue gak ngerti kenapa gue suka ama lagu ini. Pokoknya begitu gue dapet MP3 lagu ini dari Jo, langsung deh jadi rating tertinggi di iTunes gue.

Mungkin gue suka lagu ini karena liriknya. Kayaknya gue banget. HAHAHA… Gue mengakui sih, mungkin memang mirip ama love life gue. Cuman bedanya gue gak pernah berani untuk bilang ‘Sudah sampai di sini!’. No matter how hard it is. Karena once I love somebody, it will be for good. Gue gak pernah ada niat untuk ninggalin seseorang. Kecuali itu emang keinginannya dia ato dia memang melakukan sesuatu sehingga membuat gue berpikir bahwa sudah saatnya mengucapkan ‘Sudah sampai di sini!’.

Dulu...ketika gue masih polos (wakakakak….YEAH RIGHT!!!) dan gue suka sama seseorang namun gak terbalas, gue sempet kecewa. Bukan karena ditolak. Tapi lebih karena gak ada kabar sama sekali dari pihak yang satu itu. Gue lebih baik menerima penolakan di depan muka gue daripada gue ditolak dengan cara dihindarin tanpa ada kabar apapun.

Gue yakin bahwa banyak orang di luar sana yang mengalami kejadian yang sama seperti yang gue alamin. Bahkan mungkin tanpa sadar kita juga berbuat hal yang sama terhadap orang lain, termasuk gue. Tapi, semenjak gue sadar akan hal itu dan sakitnya dibegitukan, gue gak mau lagi melakukan itu. Kalo ada orang yang ngajak kenalan, dengan senang hati gue akan nerima. Kalo misalnya ternyata dia mengharapkan hal yang lebih dari hubungan itu, gue akan bilang hal yang sebenernya kalo gue gak suka ama dia. Dan when I do that, please bare with it. Bukan berarti gue gak mau jadi temen lu kan? Be an adult and be mature here.

Katanya Bulan Ramadan...


Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah.
Bulan Ramadan adalah bulan penuh pengampunan.
Bulan Ramadan adalah bulan yang paling disucikan di antara bulan-bulan yang lainnya.

Indonesia katanya negara hukum.
Indonesia katanya Bhinekka Tunggal Ika yang katanya biar berbeda tapi tetap satu jua.
Indonesia katanya bangsa yang ramah, berbudaya dan (konon) berpendidikan.

Tapi, kenapa masih ada aja yang namanya ketidakadilan?

Baru-baru ini gue ngeliat berita di beberapa stasiun TV kita. Di berita itu ditunjukkin ada beberapa pedagang yang ditegur, ada beberapa yang dagangannya diangkut oleh petugas tramtib ato sejenisnya. Yang bikin gue bingung adalah salah ya jualan di bulan Ramadan?

Menurut berita itu sih, memang ada perda (peraturan daerah) yang memang melarang untuk berjualan makanan di bulan Ramadan. Tapi, kemudian gue gak abis pikir. Kan di suatu daerah gak mungkin didominasi oleh satu umat beragama tertentu. Pasti ada umat beragama lain yang tidak berkewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Masa iya mereka juga kudu ikutan puasa?

Yang lebih gak abis pikir lagi, kenapa cuman pedagang kelas home industry aja yang ditegur ato diberesin barang dagangannya? Padahal mungkin aja kan di kota tersebut ada KFC, Pizza Hut dan resto-resto gede lainnya.

‘Gak ke-ekspose kali, Den!’
‘Karena resto-resto gede itu pake tirai penutup di jendelanya. Jadi gak keliatan frontal, Den!’

Gila!!! Kalo palang restonya keliatan juga…tetep aja kebayang nikmatnya makan ayam Original Recipe’s-nya Colonel Sanders ato lezatnya meat-lovers pizza with extra cheese topping on top-nya Pizza Hut.

Kasian kan pedagang-pedagang itu. Mereka kan juga pengen pas lebaran nanti pulang kampung, ketemu sanak-saudara, nraktir mak-babenya di kampung ato beliin anak-anaknya baju baru. Di situ adalah sumber penghasilan mereka.

Gue lebih gak suka lagi waktu ngeliat kemudian ada beberapa petugas yang dengan seenaknya ngebuang makanan-makanan yang dijual itu ke dalam kantong plastik sampah berwarna hitam.
GILA!!!!!
Mereka sadar gak sih kalo ada orang-orang yang craving untuk makan makanan seperti itu. Mungkin orang-orang itu adalah orang yang belum tentu bisa makan setiap harinya. Dan petugas-petugas gak manusiawi ini dengan seenaknya membuang gitu aja?

Gue paham kalo mungkin perilaku menjual makanan di tengah hari bolong bisa menggoda iman orang yang berpuasa. Tapi, bukankah itu ujian buat mereka? Ujian untuk menahan nafsu. Ujian untuk bisa lebih sabar. Ujian yang mengingatkan bahwa ada orang di luar sana yang jauh lebih tidak beruntung dibanding kita.

Gue mungkin bukan orang yang dermawan. Gue bukan orang yang murah hati. Gue juga bukan orang yang taat beragama. Tapi, gue menghargai kehadiran tiap manusia di muka bumi ini. Gue menghargai orang yang mencari duit untuk sesuap nasi. Gue menghargai orang yang memulung sampah hanya demi supaya bisa mbeliin anaknya baju baru di hari lebaran nanti.

Gue gak suka ama perilaku vandalisme (YA MENURUT GUE, PERILAKU ITU ADALAH VANDALISME!) macam demikian.

Bahkan yang lebih bikin bete lagi adalah ada berita mengenai diangkutnya para pengemis itu ke kantor polisi. BOOOO….please deh. Mereka bukan penjahat. Mereka mungkin oportunis yang memanfaatkan momen Ramadan untuk mencari duit lebih. Tapi, apakah bisa disalahin? Mereka gak bisa kerja. Bukannya mereka gak mau (walaupun pasti ada aja yang emang males!), tapi mereka gak bisa nemuin kesempatan kerja. Jangan sampe gue denger berita kalo kaum gepeng-gepeng itu diangkut ke kantor polisi dan untuk bisa keluar harus menyetor sejumlah uang ya…..GUE KUTUK ORANG YANG NGELAKUIN ITU!!!!

Lagipula gue gak pernah abis pikir, seharusnya kehidupan gepeng-gepeng ini kan dijamin oleh negara. Negara berkewajiban untuk merawat dan menjamin kehidupan warganya terutama warga miskin yang tidak mampu. Nah ini kenapa negara justru memperlakukan warganya yang gak mampu jadi kayak penjahat? Negara juga harus mengakui bahwa mereka turut andil bagian dalam menciptakan masyarakat yang tidak mampu itu. Ketidakmerataan pembangunan dan sebagainya, itulah yang ngebuat mereka mengemis. Tapi, sudah seharusnya kita sebagai rakyat kecil justru ngebantu mereka sebisa mungkin.

Tunjukkin dunk kalo emang kita bangsa yang berbudaya, bangsa yang menghargai perbedaan. Tunjukkin semangat Bhinekka Tunggal Ika yang keren itu.

Kalo ngeliat berita itu…gue gak percaya kalo gue adalah bagian dari bangsa yang munafik, tidak berpendidikan dan tidak berperikemanusiaan kayak gitu. Gue cinta Indonesia. Gue cinta Indonesia lebih dari apapun. Karena gue anak Indonesia. Gue bangga ama Indonesia. Gue bangga jadi anak Indonesia (walaupun tentara-tentaranya tetep kerenan luar negri punya!).

Tapi gue malu ama bangsa gue sendiri. Bangsa yang egois. Bangsa yang gak mau berpikir bersama demi kepentingan bersama pula. Bangsa yang gak pernah bisa menempatkan dirinya di posisi orang lain. Bangsa yang … …munafik.

Maafkan suara hati gue yang keras dan kenceng. Gue cuman manusia kecil yang gak akan terdengar suaranya sama orang-orang yang lebih berkuasa di atas!




Blank Filler


Pertama kali denger kata ini adalah dari si Eng. Rada susah juga untuk mengartikan kata ini. Kurang lebih artinya, a blank filler adalah orang yang ada untuk merubah status single jadi gak single lagi and that’s just about it. Blank filler adalah ban cadangan yang bisa dipake sewaktu-waktu kalo sang pacar lagi gak ada kesibukan. Orang yang bisa dibilangin kangen, orang yang bisa dibilangin ‘aku cinta kamu’, orang yang bisa jadi tempat untuk ngekspresiin perasaan-perasaan itu semua deh.

Gue jujur gak pernah suka jadi spare-tire. Siapa sih yang suka?

Dulu ada temen gue yang ninggalin (bener-bener literally ninggalin!) gue dan temen-temen gue karena dia pacaran ama seorang cewek. Dari awal kita udah mention kalo ‘She’s not worth to fight for!’. Tapi, dia tetep milih untuk jalan ama cewek ini. Akhirnya…bye-bye.

Ya sudahlah, kita juga gak bisa apa-apa dunk. He’s an adult anyway and it is his life. Tapi, kemudian hubungan mereka berakhir dengan akhir yang tidak terlalu menyenangkan. And guess what? He was back looking for us again, to hangout again with us.

Sebel, pasti ada. Ya iya lah, setelah sekian waktu dia bener-bener ninggalin kita karena seorang wanita…sekarang dia malah balik ke gue dan temen-temen gue karena dia udah putus? Waduh, kita bukan ban cadangan yang bisa dipake sewaktu-waktu saat dibutuhkan aja. Tapi, gue gak pernah bisa untuk nolak niat baik seseorang untuk kembali berteman.
Begitu juga urusannya dengan pacaran.
Gue gak pernah mau dijadiin pacar untuk mengisi waktu luang.
Gue gak pernah mau dijadiin pacar cuman untuk ngisi status.
Gue ogah jadi pacar orang yang cuman get in to my pants doank.
Gue ogah jadi pacar yang cuman dipake untuk bilang ‘sayang’ dan ‘cinta’.

Mungkin buat beberapa orang menyandang status single kayaknya aib. Sehingga mereka butuh seorang blank filler.

Sementara, Sof, seorang temen baik gue juga. Punya masalah ama yang namanya nemuin Mr.Right. When she finally found this perhaps Mr.Right, she got cold feet. Emang sih, beda agama jadi faktor utama. Si Mr.Right willing to find a way-out upon that matter, tapi Sof gak mau melewati itu semua. Dia gak mau harus membuang waktu untuk menjalani hubungan yang gak ada kepastiannya.

Waktu dia cerita itu semua ke gue…rasanya gue pengen nangis. Sementara gue craving untuk orang yang mau memberikan segalanya untuk gue (in a good way ya), Sof already found that person. Mungkin memang belum tentu berakhir dengan bahagia, tapi setidaknya mereka udah mencoba.

Mungkin apa yang gue pengen terlalu utopis. (kadang) Gue pengen punya pacar yang ngasi gue kado di hari ulang taun gue. (kadang) Gue pengen punya pacar yang ngasi gue kado natal. (kadang) Gue pengen pacar yang bisa selalu spend more time with me. (kadang) Gue pengen punya pacar yang ngerti arti dari sebuah hubungan US/WE/OUR!!!

Gak ada gunanya untuk hidup bersama seseorang yang gak willing dan belum sadar untuk memberi tempat tersendiri dalam hubungan itu. The thing is waktu kita memilih untuk hidup bersama dengan seseorang, spending the rest of your life with this particular someone, kita juga harus siap memberikan segalanya pada pasangan kita. Tapi, berapa manusia yang sadar itu sih? Yang ada juga pemikiran seperti ini bakal di-repress ama pasangan kita…

I rest my case.

Komoditas Berjudul Sayang Dan Cinta


Semudah itukah kita mengucap kata sayang ato cinta kepada seseorang?

Ke siapa sih seharusnya kita ngucapin kata-kata itu?
…Keluarga?
… …Calon pacar?
… … …Sahabat?

Apakah rasa itu juga bisa hilang seiring waktu berjalan?
Semudah itukah hilangnya?

Salahkah gue kalo gue belum bisa bilang kalo gue sayang ama lu?
Sedemikian pentingkah kata ‘sayang’ dan ‘cinta’ untuk diucapin?

Bukan karena gue gak sayang ama lu.
Bukan itu.
Gue sayang ama lu baru sebatas teman. Dan rasa sayang seperti itu akan selalu ada. Walaupun akhirnya mungkin lu malah benci gue karena rasa sayang yang gue kasih bukan rasa sayang yang lu mau, gue akan selalu tetep sayang ama lu. Karena lu udah jadi bagian dari hidup gue dan akan selalu begitu. Apapun yang terjadi gak akan pernah bisa ngilangin kenyataan kalo lu udah pernah hadir di salah satu halaman hidup gue.

Mungkin rasa sayang yang lu harapkan dari gue akan datang. Tapi, apakah bisa dimengerti kalo gue bilang ‘gue butuh waktu’? Bukan karena gue menolak. Bukan karena gue gak suka. Bukan. Tapi, gue gak mau ngasih harapan palsu ke lu. Gue gak mau kalo gue ngucapin itu hanya untuk ngebuat lu seneng dan tenang. Gue pengen kalo gue ngucapin kata ‘sayang’ seperti yang lu mau, itu berasal dari hati gue langsung dan yang paling dalem.

Karena buat gue, kata-kata cinta dan sayang bukanlah sebuah komoditas belaka. Bukan kata-kata yang diucapkan hanya karena untuk membuat seseorang seneng. Bukan kata-kata yang kita katakan karena kita butuh. Kita memang butuh rasa sayang dan cinta. Tapi, kata-kata itu bukan sekedar kata-kata biasa. Ada makna yang dalam di setiap kalimat yang mengandung kata-kata itu.

Gue gak pengen jadi orang yang dengan mudah mengobral kata ‘sayang’ dan ‘cinta’. Gue gak mau mengatakan itu kalo gue gak bener-bener bermaksud demikian.

Gue gak mau jadi orang yang bilang ‘aku sayang kamu’, ‘aku cinta kamu’ tapi, gue gak pernah berusaha ketemu lu.

Gue gak mau jadi orang yang bilang ‘aku sayang kamu’, ‘aku cinta kamu’ tapi, gue gak pernah cerita apapun sama lu tentang hari ini, tentang satu hari ini gue udah ngapain aja di kantor.

Gue gak mau jadi orang yang bilang ‘aku sayang kamu’, ‘aku cinta kamu’ tapi, gue gak pernah sms lu nanyain kabar lu, apa lu udah makan, apa lu lagi bete ato seneng.


Gue gak mau jadi orang yang bilang ‘aku sayang kamu’, ‘aku cinta kamu’ tapi, gue malah lebih enjoy ketemuan ama temen-temen gue dibanding ketemuan ama lu.

Gue gak mau jadi orang yang bilang ‘aku sayang kamu’, ‘aku cinta kamu’ tapi, gue gak bisa menjadi tempat yang bisa lu sebut ‘rumah’.

Gue pengen jadi matahari lu waktu suasana hati lu di siang hari lagi mendung karena bos lu ngebetein.

Gue pengen jadi orang yang bisa selalu sayang terus sama lu. Sampe kapanpun. Biarpun mungkin seiring waktu berjalan, akan ada pertengkaran di antara kita. Besarnya rasa sebel dan benci yang timbul akibat pertengkaran itu gak akan bisa ngurangin rasa sayang gue untuk lu. Gue juga berharap that sparks will always be there for both of us.

Karena itu buat gue kata-kata ‘sayang’ dan ‘cinta’ gak segampang itu untuk diucapkan. Gue gak mau semudah itu mengatakan kata-kata itu. Karena buat gue, kata-kata itu sakral artinya buat gue.

For maybe I am a complicated person.

Ke Jakarta Ku Kembali


Wiken yang lalu, I was having a great time. It’s been a while semenjak terakhir kali gue ngalamin weekend seseru itu.

Mulai dari hari Jumat, gue nongkrong di Oh La La Thamrin sama temen gue. Jujur this place is not our favorite place to hang out. Tapi, sekali-sekali boleh deh. Hehehehe….some call this place as ‘PASAR DAGING’. Some call this place is a place to see and to be seen. Beberapa jam nongkrong di situ, mulut rasanya udah bega nyela. Bahkan mungkin gak bisa nyela sama sekali karena udah keabisan kata-kata untuk nyela. Banyak orang yang dateng ke sini (pastinya!). Spending the last days before Ramadan tiba. Sepertinya malem ini sedikit lebih ramai dari biasanya (or was it just my feeling?), secara (mungkin) tempat-tempat gemerlap mulai pada tutup karena Ramadan hihihihihihi…..

Mata mulai menyisir tiap pengunjung cafĂ© 24 jam ini. Mulai dari oom-oom yang pake baju ketat berlogo Batman sampe seorang (so-called) celebrity yang dateng pake baju putih yang sensasional. Kagum gue melihat mereka yang berani berpakaian parpurna itu. Gue sendiri jelas gak akan seberani mereka. Karena gue gak akan merasa nyaman dan aman mengenakan baju seperti mereka. Gue lebih suka dengan gaya konservatif gue, t-shirt warna netral dan jeans. Toh, gue gak bertujuan untuk mencari perhatian. I just want to chat with my friend there. Just to see, not to be seen. Even kalo gue diliatin orang, ah palingan orang-orang yang nge-add gue di friendster yang gue juga gak kenal. Ato salah satu dari orang-orang masa lalu gue yang kelam hihihihihi……

Abis lelah ngeliat, gue dan temen gue terus binun mau kemana lagi. Secara kita belum mau pulang juga. Hehehehe….maklum kami kan nightcrawlers. Akhirnya si bodoh ini ngasih ide ke Puncak. Wakakakaka….wuuusssshhhh….melesat bow.

Sepanjang perjalanan, perilaku bodoh kembali muncul…
‘Sampe Puncak, trus kite nongkrong dimane?’

Halah capek deh…akhirnya Riung Gunung pun kita sambangi. Secangkir teh manis panas dan roti coklat pun mengisi perut. Dan ternyata tak dinyana rasanya lebih yahut dibanding Rotbar Wiwid maupun Edi. Setelah puas ngobrol dari hati ke hati, ke Jakarta kami kembali.

Besoknya…standar-standar aja. Gue makan di PS. Abis itu rencana mau nonton tapi gak jadi karena filmnya gak ada yang yahut. Akhirnya ke Kelapa Gading. Hihihihihi bisa-bisa gue dicela ama Har karena akhirnya gue ke Kelapa Gading pas weekend. Wakakakaak…lumayan juga sih nongkrong di La Piazza. Walaupun akhirnya tetep nyela-nyela manusia. Di balik kebosenan karena keabisan tempat nongkrong, kita dihibur dengan kehadiran Ecoutez!

Afterwards, kita berakhir di Rotbar Wiwid. Dan kembali ke rumah.

Hari ini setelah nginget-nginget lagi…gue mikir kalo ternyata di Jakarta itu udah keabisan tempat wisata ya. Gimana gue gak mikir begitu? Rasanya Jakarta gak menjadi temen akrab untuk orang-orang kayak gue yang demennya berpetualang. Berpetualang nyari makan enak dengan akses yang mudah nan nikmat. Berpetualang nongkrong outdoor dengan banyak pohon dan semilir angin (hadooh….).

Jakarta udah bener-bener keilangan ruang publiknya. Alternatif hiburan yang ada di kota Jakarta gak pernah dimaksimalin dengan baik. Kecuali lu adalah seorang clubber, jangan harap bisa enjoy di Jakarta. To be a shopaholic di Jakarta aja, rasanya juga butuh perjuangan berat. Melawan panas dan debu Jakarta.

Namun biar bagaimanapun Jakarta adalah kota tempat gue dilahirkan. Seiring waktu berjalan, badan, pikiran dan perilaku gue pun beradaptasi sama hingar-bingar serta hiruk-pikuknya Jakarta.

Tapi, tetep gue pengen nongkrong di taman yang banyak pohonnya.

Enough is Enough!!!


Kadang kita emang gak akan pernah tau when enough is enough. Especially when love involves.

Ibaratnya domestic violence, istri dipukulin suami, sebagai korban kita terus ngebuat alesan untuk nutupin kelakuan si pelaku. Bilang kalo kita kebentur pintu lah, jatoh dari tanggalah dan seterusnya. Kita seakan gak bisa ngeliat kenyataan kalo kita adalah korban yang disakitin, physically and mentally. It is enough already. It is time to stop this violence.

Let’s twist the story just a bit. Gimana kalo physically kita gak disakitin, tapi secara mentally we’re screwed? Is it time to say when enough is enough? Mungkin kebanyakan dari kita bilang, YES IT IS!!!

TAPI,
Akan selalu ada resiko untuk setiap keputusan yang kita ambil.
Gimana kalo dia adalah satu-satunya pasangan yang bisa berkomitmen?
Gimana kalo kita emang udah capek aja nyari yang lain walaupun gak bisa dipungkiri bahwa kesempatan itu masih ada? There are plenty of fishes in the sea.
And remember…we’re not physically hurt. Mentally, more or less, we’re hurt.
HOW’S THAT? Can we keep up with this ‘enough is enough’ thing?

What’s the meaning of a relationship when you’re already not seeing each other in the past 4 months? Don’t talk about weekdays, even on weekends you’re still not meeting with your spouse. Is it healthy for a relationship to go on like that? I have to say NO. Biarpun komunikasi itu bisa berjalan lewat telepon genggam, it just doesn’t feel right.

Dia gak pernah ada di samping lu waktu lu lagi sakit. Tapi, dia bisa ambil cuti waktu temennya ada selamatan.
Dia gak pernah bisa meluangkan waktu untuk lu biar cuman 3 menit di antara kesibukannya.
Dia gak pernah berusaha untuk bertemu dengan lu. Walaupun dia selalu bilang ‘kangen’.
Dia malah mau pergi ninggalin lu karena dia udah janji ama temen-temennya selagi lu lagi down karena suatu hal.

Is it time for us to say enough is enough when things like that happens?

Mungkin kita bisa bilang bahwa hal ini bisa dibicarain. Tapi, then like always there is a lot of possibilities. The possibilities are endless. Let’s just assume we really know this person. Let’s think of the worst scenario : dia punya EGO yang terlalu besar untuk mengakui dirinya salah. Dia bukan type orang yang bisa berubah untuk keberhasilan suatu hubungan. Dia adalah type orang yang gak bisa didebat.
Bener kalo kita bilang ‘at least, you said what’s on your mind’. Tapi, what’s the use kalo semuanya itu terus dibantah? What’s the use when someone put a high fortress on their ego? Isn’t it a waste of breath?
Maybe yes, maybe not. It depends on the person.

But, what about us as the victims? Should we say ‘enough’? When will we know that ‘enough is enough’?

Maybe at this point even the so-called power of love pun akhirnya gak berdaya ngadepin yang namanya sifat dasar egois manusia.

Talked And Listened Period


Pagi itu gue ama temen-temen gue makan pagi jam 10 di Citos (IYA..IYA. Lagi-lagi Citos? I am a Citos freak! Maklum kan ABG!).

Trus pas lagi makan sandwich dan meeting kecil2an, gue nyalain laptop gue dan online. Which I hate it. Rasanya gue udah gak bisa idup tanpa sehari nyentuh internet. HAHAHAHA…gak juga sih. Anyway, pas gue online YM…..

Sis (S) : DEN, EMERGENCY HELP ME!!!!
Den (D) : Dasar banci panik!!! Kenapa lagi sekarang?
S : Kayaknya gue selingkuh neh.
D : Kenapa mangnya? Sama sapa?
S : Well…I met this guy.
D : What’s he look like?
S : Not handsome but, charming. Very charming. Kind. Caring.
D : Hun, you’re in deep shit or in love?
S : BOTH!!!!!
D : Koq bisa ngomong gitu?
S : Well, lu tau lah hubungan gue ama si ‘EGO”.
S : I don’t know how…but, this person very very much comforting me. He listened. He responded. He talks. He’s smart. He’s seemed to be honest. But, what I lfrom this guy the most is HE ACTUALLY LISTENED not to mention he’s a very positive person. It’s the opposite of me.
D : Cieeh yang lagi fall in love!!!!!!!!! Darleen, rumput tetangga emang selalu lebih ijo!

By the time it was over, my chat with Sis, I was thinking. Is it wrong to like someone when you’re in a relationship? YA IYA LAH!!!

TUNGGU!!! Gimana kalo ternyata emang hubungan itu gak berjalan semestinya?
Katakanlah … salah satu pihak gak ada komunikasi, salah satu pihak gak pernah berusaha to spend some time with their partner ato usaha yang gak berjalan seimbang dalam mempertahankan hubungan itu karena hanya berjalan dari salah satu pihak?

Is it wrong to like someone when you’re in such relationship? Not healthy relationship? Still the answer tetep IYA, SALAH!!!!

Several days later, gue ketemuan ama Sis di PIM (d’oh, kalo gak Citos lari-larinya PIM!), lebih tepatnya di Tea N Tea.

EXTRA INFO : That place is really recommended if you are a tea lover. The vanilla ice cream waffle is splendid. They have some quite tea variety. Unfortunately, the waitress was not really helpful to the customer. Since there’s a lot of tea varieties, it would be nice to ask the customer if they need any help to explain what’s on the menu.

Anyway…there she is. Dateng dengan muka ceria and moony (also sparkling) eyes.
“He was great, Den”

The point of that meeting was …ternyata si Mr.Wonderful ini completely different dengan pacarnya yang sekarang.

>>Dia nelpon Sis waktu makan siang, just for the sake nanya Sis whether she had her lunch or not.

>>Dia juga nelpon Sis karena dia lagi bermasalah di kantor, seakan Sis jadi semacam oase-nya si Mr.Wonderful.

>>And the most wonderful from this Mr.Wonderful adalah, dia nanya ke Sis, “What do you want for your birthday?”.
[FYI, Masa kecil Sis emang gak bisa dibilang happy. Secara dia gak pernah ngerayain ulang taunnya secara spesial dan juga gak pernah ditanya seperti itu biarpun sama keluarganya sendiri.]

My..my..temen gue jatoh cinte. Ngeliat temen gue kayak begini jadi inget rasanya kena panah sang Cupid. WAKAKAKAKAK…

Gue trus bilang ke Sis, kalo mungkin aja itu emang caranya si Mr.Wonderful pedekate ama Sis. Mungkin aja andaikan Sis putus ama pacarnya yang sekarang trus jadian ama Mr.Wonderful, that Mr.Wonderful turns out not as wonderful as he used to be.

“Tapi, Den. He TALKED to me. He LISTENED to me.”

Gue sekarang ngerti betapa pentingnya kebutuhan manusia untuk mendengarkan dan didengarkan. Mungkin beberapa dari kita nganggep diri kita adalah seorang pendengar yang baik. ARE YOU SURE? Mendengarkan bukan hanya sekedar mendengarkan lho. Bukan sekedar duduk, diam dan trus ngedengerin semua yang lawan bicara kita omongin. Bukan sekedar menanggapinya dengan anggukan dan lenguhan semata.
Kadang orang yang bercerita tentang sesuatu, tentang masalah yang dihadapinya ato tentang apapun, mereka gak butuh suatu solusi. Mereka hanya butuh seseorang untuk mengeluarkan ‘THIS THING’ yang nyangkut di otak mereka. Tapi, gak ada artinya kalo kita cuman duduk, diam dan denger. We need more than that. We need more affection.

MANUSIA INDONESIA craving to be one of us?


Beberapa hari yang lalu gue nongkrong lagi di Pondok Indah Mal. Where else? Sekali lagi, deket ama rumah dan aksesnya gampang kemana-mana. Ignore the traffic jam ya.

Bertrand yang nongkrong di tempat yang biasa, Kafe Regal, nunjukkin sebuah artikel yang bener-bener (menurut gue) sangat menyindir, menggelitik tapi bener adanya.
61 reasons why it’s good to be an Indonesian!!!
Gue ringkes aja yauw.

Gak perlu antri.
Iyalah, gak perlu antri. Mau antri tiket bioskop, liat aja ada temen kita yang ngantri gak? Kalo ada nitip aja. Hehehe…gak ada? Yah gak lama juga kan?

Bisa dapet DVD ato CD audio terbaru hanya dengan harga 10.000.
Hey, gak usah ngomong soal kualitas ya. At least kalo pinter nyarinya, semua itu bisa didapet dengan harga murah dengan kualitas yang gak mengecewakan. To say no to piracy …. Hehehehehehe…..YEAH RIGHT!!!

Gak harus on-time, cukup dengan kata “Sorry!”
Trus ditambahin embel-embel, “Macetnya Jakarta!”

Punya Mangga Dua.
Dasar aja banyak yang gengsi! Ngakunya beli di HongKong, padahal beli di MangDu. Secara barang MangDu juga nongolnya dari HK. Jadi ngapain mahal-mahal ke HK? Suasananya beda, ce! Emang sih. Maaf deh, gue manusia berpikiran ekonomis.

Punya Harley, gak usah pake helm. Kalo ditilang, “TITIP YA, PAK!”
Indahnya kan Indonesia? To serve and protect-nya polisi berada dalam arti sebenernya. To Serve The Community, in this case teermasuk melayani urusan pengadilan di jalan.

Pengen punya SIM tapi gak bisa nyetir? Pengen punya SIM tapi belum cukup umur?
Pergi ke SAMSAT di Daan Mogot, keluar duit ekstra
untuk calo … THERE YOU HAVE IT : SURAT IJIN MENGEMUDI.

Thank GOD, (when) it’s Friday!!!
Waktunya makan siang ke mal-mal, belanja dan balik ke kantor jam 3 sore!!!!

Harga bensin yang (sebenernya) murah dibanding belahan dunia manapun.
Enaknya kita masih bisa protes ke pemerintah kita. Hehehehe how can we be that selfish?

Bisa punya istri banyak dan tetep terlihat bangga!!!!
Yah konon katanya sunah nabi untuk membantu janda-janda yang gak mampu!!! Ato cuman sekedar alasan untuk membenarkan syahwat?

Punya wajah Indo dan jobless? Daftar aja ke modelling agency ato nyoba casting.
Gak perlu jadi pinter. At least bisa ngapal skrip. There you go…JADI SELEBRITIS DAN PUNYA DUIT!

Free Parking!!!
Ada tukang parkir yang membuat tempat yang mustahil menjadi tempat parkir. Belum lagi untuk urusan parkir-memarkir…orang Indonesia gue yakin berani diadu deh ama pihak manapun.

Show you ID please! REALLY????
Beli rokok under-age? FREE! Beli alkohol? FREE! Disco entry? FREE!!!

Bisa SMS gratis di atas jam 12. Ato telepon sesama operator yang cuman ngabisin 100 perak.
Need I say more?

Jakarta emang udah penuh sesak. Tapi, anda bebas beli mobil sebanyak yang anda mau (dan mampu).

Katanya sih kita termasuk negara termiskin di dunia, untungnya masih bisa nikmatin Starbucks.

Gak usah susah-susah melestarikan budaya kita sendiri, secara udah ada manusia bule yang dengan giat dan proaktif melestarikan budaya kita. Hehehehehe….

Ada ‘Burger Blenger’ yang jauh lebih nendang dibanding burger negeri Paman Sam manapun.

Mau beli baju branded dengan harga miring? FACTORY OUTLET!

Punya banyak pulau yang bisa dijadiin tempat rave party. Not that I cared anyway.

Dan masih banyak lagi. I’ll let you figure some other thing.
Thank juga untuk this SOAP magazine yang cukup inspiring. Hehehehe….

Defining Relationship

Gue gak bisa untuk gak berkomentar sama blog yang ditulis temen gue.
Disitu dia nanya,
“Does he a boyfriend material or not?”

PLAAKK!!! Rasanya kayak ditampar pas gue baca pertanyaan itu.
“Am I a boyfriend material as well?”

Boyfriend/girlfriend material adalah kata yang (mungkin) bakal kita sering denger kalo udah nginjek topik yang namanya : RELATIONSHIP!

What defines a boyfriend/girlfriend material?
Can we define it?

Setia, komunikatif, humoris, etc. Kriteria standar yang ngebuat kita jadi BF/GF material. Tapi, what if that relationship is not a normal relationship? Let’s say it is a cong relationship. Dua manusia with the same sex having a relationship. Have their same ego, same pride and same way of thinking.

Pengalaman temen gue, dia bilang kalo once he asked this particular someone :
“What do you think of me?”
And the answer coming from this particular someone was :
“You are a great person to be boyfriend, sayangnya dari blog lo gue tau kalo lo suka ke sauna juga”

Okay, sejak gue tau kayak apa sauna itu, gue bisa ngebayangin dan rasanya gue juga sedikit banyak ngerti perasaan orang yang ngejawab itu.
In this kind of relationship, it is very much understandable that we feel so insecure and lonely (sometime). And so when we found someone, we just want to hold on to this particular someone. When that time comes then sometime we may also become a little bit possesive (definitely not good) and maybe become MORE insecure.

Why should be insecure?
Gampangkah nemuin seseorang yang click in this kind of relationship world? Pasti jawabannya gak kan?

Dulu gue sempet deket dengan seseorang. DIA = PARTY, PARTY = DIA. Siapa sih yang gak kenal dia? FS account aja sampe punya lebih dari 2. Temen-temennya bejibun (walau gue yakin gak semuanya dia kenal secara personal). Tiap malem, gak peduli weekdays or weekends, dia pergi dugem. Sebelum gue punya hubungan lebih jauh ama dia, gue udah keburu ngerasa insecure. Karena gue takut kalo dia flirting di tempat dugem. Karena gue takut kalo dia udah flirting trus berlanjut ke kasur. Ato ketemuan diem-diem tanpa sepengetahuan gue. Above all sebenernya gue lebih takut kalo dia tidur ama orang lain. So, that’s the end of it.

“PARNO AMAT???” (I think we've felt that way before, haven't we?)
“Gue kan cinta lu. Gak mungkin lah gue ngelakuin itu. Koq curigaan terus sih?”

Let’s see how many cong couples that you know who sail the open sea of relationship for good and not crashing? Kalo fighting storm pasti gak bisa dihindarin ya. Banyak yang gue tau, mayoritas pasti putus karena pihak ketiga. Kenapa bisa sampe ada pihak ketiga? Banyak alesannya. Let’s list some of it (maybe along with some reactions that I might say if someone ever talk to me like this).

“Dianya gak perhatian lagi ama gue!”
>Mungkin dianya sibuk?

“Dianya gak pernah cerita-cerita lagi ama gue.”
>Kenapa gak ditanya ato kenapa gak kamu yang cerita ama dia?

“Dia gak pernah dengerin gue lagi.”
>If he’s not available, you still have your friends to talk with.

“Dia lebih sering ke gym daripada ketemu gue.”
>Kenapa juga gak ikutan nge-gym?

“Dia lebih suka hang-out ama temen-temennya.”
>Kenapa gak ikutan hang-out?

“Gue gak suka temen-temennya.”
>Ya udah why complains? Everybody needs their space sometime. You can't expect dia suka ama temen-temen lu juga dunks?

“Dia pergi dugem dan gue gak suka dugem.”
>Kenapa jadian dari awal? Kompromi lah!!!!

See. Akan selalu ada jawaban untuk setiap pernyataan yang dikeluarkan. Mungkin gak kalo semua pernyataan-pernyataan itu memicu seseorang untuk mencari orang lain yang bisa ngasih itu ke dia sampe akhirnya … THERE YOU HAVE IT, A THIRD PERSON ON THE BED.

It’s hard for me to accept the fact to know that my partner goes clubbing or sauna (even on my acknowledgement). I am one of that person who’s affraid that my partner will leave me for someone better. Though I know there will always be someone better. And I just can’t accept the fact when my partner is screwing somebody else.

Maybe we (men) think that sex is only sex. And it’s different with making love. Sering gue denger kalo banyak yang beranggapan kayak gitu.
[Making love = sex but you do it with love]
and
[Sex = it’s just sex]
The thing is, can we all accept that kind of concept?

Uniting two person with different character is something tricky. Especially when it involves the same sex. Teori ‘menerima pasangan kita apa adanya dan sebaliknya’ tetap berlaku dan memang harus seperti itu.
But,
Do we have to make some changes due to a relationship?
Changes that maybe for a better relationship?
If so, how much the change should be?

Can you still love your partner after several years of relationship? After he turn from one hunkadola into a chunkadola, while there you are standing in your astonishing figure shape and out there running freely youngsters with athletic and muscular body?

Maybe when it comes to a relationship, change is needed. Not drastically. More like comprimising the situation of a two person staying or living together. There will be no YOU or ME anymore. It is already US/WE/OUR when we have a relationship. Every decision to be made is supposed to be what’s best for both interests, not personal (anymore). But, of course even husband and wife have their own boundaries. Batasan yang harus dibuat atas segala keberadaan pribadi mereka masing-masing. Perasaan, kepemilikan pribadi dan masalah personal lainnya. Lagi-lagi hal ini harus dikompromiin lagi.

Gue gak yakin gue bisa ngejawab semua pertanyaan yang ada di blognya temen gue. Karena gue pun bertanya-tanya hal yang sama.

Do I have that boyfriend material when I have a relationship?
How can a relationship works? Compromising? Communication? Sex?

Then maybe some relationship was not meant to be a successful relationship.

Maybe I thought wrong. Maybe I was wrong by writing this. Who am I to judge and make a definition of a relationship?
You read this writing from someone who can keep up his relationship with his partner. I’m sorry, for I am mere human.


Three's A Crowd!

Tadi waktu makan siang, gak sengaja gue ngeliat CTV. Trus gue ngeliat running text SMS yang ada di bawah itu lho dan ada tulisan :

"Sorry ya, XXX. Gw terpaksa mutusin lu karena temen-temen gue gak setuju ama hubungan kita berdua."

Hehehehe...dasar ABG masa kini. Kita harus putus ama pacar hanya karena temen-temen kita gak setuju ama pilihan kita.

Emang sih, sekarang ini temen udah jadi kayak keluarga kita. Bahkan bukannya gak mungkin kalo nama merekalah yang kita tulis di form-form yang ada kolom 'in case of emergency'
contact person instead keluarga kita sendiri.

Waktu kita suka sama seseorang, kita mungkin adalah satu-satunya orang yang tau kenapa kita bisa 'fall in love' sama orang yang bersangkutan. Mungkin juga temen-temen kita tau kenapa, dengan catatan orang tersebut emang punya satu pesona daya tarik yang amazing. Tapi, lepas dari semuanya tetep aja emang kita yang paling tau kenapa.

... ... ...So, who knows what's best for us except for ourselves?
... ...Does anybody really think they know what's best for us?
...Does their thinking really sincere to think what's best for us?

Jawaban apapun yang ada, pasti bukanlah jawaban yang exact. Bukan jawaban yang merupakan harga mati. Karena memang gak ada jawaban yang pasti untuk semua pertanyaan tadi.

Mungkin memang temen kita ngeliat sesuatu dari orang yang kita sukai sehingga mereka bisa mikir bahwa orang ini gak pantes buat kita. Mungkin aja mereka bisa melihat tapi kita yang buta gak ngeliat ato emang gak mau ngeliat hal itu. Hey, love is blind kan? HEHEHEHEHE... Mungkin karena inilah kita butuh pendapat temen kita. Terlepas dari mereka bener ato salah tentang pendapatnya, hey at least kita udah dapet second opinion. THAT'S MATTER.

Tapi, to break up with someone because our friends doesn't approve our partner? HOLD IT, DUDE!!! STOP RIGHT THERE!!!
Gimana kalo ternyata justru mereka cuman semata-mata gak suka ama pasangan kita alias (mungkin) sirik? Lah bisa-bisa malah kita keilangan orang yang jadi (mungkin) soul-mate kita. Duh kebayang donk betapa nyeselnya?

No matter what, when we want to break up with someone, it would be very wise to think it twice. A relationship was meant for good. Yang ngejalanin satu relationship hanyalah 2 orang itu sendiri kan?
Three's a crowd. Other peoples opinion just for your second opinion, for your consideration only to make a wise and better decision for your life no matter what.

Crazy Little Thing Called Love


Once there's someone asking me.
... ... ...[Where's love?]
... ... ... ... ...[What's love?]

Gue coba nyari artinya di Wikipedia. For the sake of formality. So here it goes.

CINTA adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang.

OR


C
INTA
adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Let's talk about it one by one.

CHRIST!!! (gue gak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan ya!)
Duh panjang nian dan ribet artinya. Anyway, is it? Is the meaning of love can be describe into one sentence by some world-ly words?

Kalo gue ditanya arti cinta, ... ... ...WHAT? I DON'T KNOW!!!
Yang gue tau cuman yang namanya cinta itu ada. Dari dulu gue selalu nganggap bahwa cinta gak pernah bisa dideskripsikan ama kata-kata. Cinta tuh dirasain.

Kalo ngeliat arti yang gue dapet dari Wikipedia, cinta digambarkan sebagai bentuk yang positif. Mungkin yang nulis definisi itu gak kenal ama yang namanya bentuk cinta yang posesif atau bentuk cinta lain yang mungkin justru bisa merugikan kehidupan seseorang atau sesuatu.

Kita tau pastinya kalo bentuk cinta itu banyak macemnya. Cinta keluarga, cinta terhadap sahabat, cinta seorang kekasih dan masih banyak beribu bentuk cinta lainnya. The bottom line... can we describe love? Is there any precise description about love itself? Please sir, I really want to know.

Selama ini banyak orang yang demikian gampangnya ngomong,
... ... ..."Love you, Den!"
... ... ... ... ..."God, I love you Den!"
and so on, so forth.

When? (most of the time) When we goddamn fu**ing!!! HAHAHAHAHA
[Pardon my bluntness!!!]

Was it for real or was it testoterone speaking? Hahaha...haha...ha...

OR

Setiap saat pasangan kita seringkali bilang "I love you!" and they've never been at our side by the time we need them?

It is however, still a form of love. Although it is a degradation meaning in the terms of love.

The bottom line, love is something you can't describe by words. Words are words only, without any meaning if you don't really mean it.

Now for the next topic, WHERE IS THE LOVE?
Pertanyaan yang satu ini muncul (dari orang yang sama : unknown) di shoutbox gue beberapa waktu lalu. And it tickles me to write down about it.

Gue bilang ke dia, quoting dari film 'Love Actually',
[LOVE IS ACTUALLY ALL AROUND!!!]

Kita bisa ngeliat setiap saat. Go check the arrival at the airport or a train station. Kita selalu bisa ngeliat orang yang pelukan, cipika-cipiki or laughing. Small, but THERE IT IS!!! THERE'S LOVE!!!
Yup, maybe some of us needs a different kind of love. Kita selalu ngebutuhin bentuk cinta yang lebih affectionate, more intimate. Like I said before, human would never satisfy over anything. We always wants more.

...Ngeliat orang yang kita sayang tidur di sebelah kita dan ngeliat muka bodohnya waktu lagi ngorok.
... ...Nerima SMS "Have a nice lunch, bey!" dari si dia.
... ... ...Nerima kunjungan surprisenya di tengah malem, just for the sake the this person misses you.
... ... ... ...Ditelpon pas jam 2 siang cuman untuk bilang "Suddenly I think about you and want to hear your voice"

... ... ...CHEESY????

... ...GOMBAL???
...KAMPUNGAN???
... ...CHILDISH???
... ... ... ...DRAMA QUEEN???
But, admit it. That are the kind of affections that most of us expect from our partner, right?

Mungkin... ... ...mungkin kita adalah satu gerombolan manusia yang paling gak secure sedunia. Takut keilangan. Takut kalo pasangan kita selingkuh. Takut kalo mereka flirting ato making-out ama orang lain. Takut kalo dilupakan karena dia tenggelam karena kesibukan dia sendiri. Takut kalo ternyata kata-kata 'I love you' yang sering dia bilang cuman sekedar lip-service.

I know for I am also a part of that gank!

Now, balik lagi ke diri kita masing-masing. Love is actually all around you. Mungkin bukan cinta yang lu semua pengen. Tapi, cinta ada koq dimana-mana. If you want an affectionate and intimate love, you will find it someday-someway. And when you do, please consider what he/she needs in return from you. Coz maybe that's what all love about, ... ... SACRIFICE!!!